Bursa Efek Indonesia Didesak Transparan Soal Rumor Akuisisi BYAN

Share

Mirae Asset Sekuritas mendesak Bursa Efek Indonesia untuk memberikan keterbukaan informasi secara transparan guna mengantisipasi lonjakan spekulatif pada saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) akibat rumor akuisisi oleh Haji Isam pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Desakan ini muncul setelah pergerakan saham BYAN melonjak 19,97 persen atau 2.875 poin ke posisi Rp17.275 per saham pada penutupan perdagangan. Di saat bersamaan, saham JARR meroket 24,88 persen atau 500 poin menuju level Rp2.510 per saham.

Lonjakan signifikan tersebut memicu kekhawatiran atas tingginya transaksi spekulatif yang tidak sejalan dengan fundamental perusahaan. Kondisi ini berisiko menimbulkan kerugian besar bagi investor individu jika harga saham berbalik merosot saat rumor tidak terbukti.

Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengingatkan bahwa rekam jejak transaksi akuisisi di masa lalu kerap berujung mengecewakan bagi pemodal.

"Kalau isu seperti ini, yang harus memberikan informasi secara transparan kan dari bursa sebenarnya," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Otoritas bursa dinilai perlu lebih aktif berkomunikasi guna memverifikasi kebenaran isu pengambilalihan saham tersebut. Langkah ini krusial untuk melindungi investor ritel dari risiko fluktuasi harga yang ekstrem.

"Retail investor yang lebih suka hal-hal yang spekulatif," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap pemodal kecil agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang sengaja menggoreng isu korporasi demi mendongkrak harga saham.

"Harus tetap dilindungi juga kan, jangan sampai mereka akhirnya rugi," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Meski demikian, Rully mengakui minat pemodal ritel terhadap saham-saham berbasis sentimen masih sangat dominan di pasar modal.

"Tapi tetap aja mereka pada dasarnya senang yang kaya gitu," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat rumor pengambilalihan sekitar 62 persen saham BYAN oleh pihak terafiliasi Jhonlin menjadi katalis utama. Spekulasi menguat usai JARR menjadwalkan RUPSLB pada 21 September 2026 dan adanya laporan kunjungan Haji Isam bersama pemegang saham pengendali BYAN, Dato' Low Tuck Kwong, di area tambang Kutai Kartanegara pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Di sisi lain, penguatan saham grup Haji Isam juga terjadi pada emiten lain seperti PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) yang melesat 22,91 persen ke Rp1.690, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) naik 19,93 persen ke Rp9.175, serta PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menguat 8,79 persen ke Rp520 per saham.

Kendati harga saham jajaran emiten tersebut kompak melonjak, kinerja keuangan semester I/2026 menunjukkan dinamika beragam. Laba bersih JARR terkoreksi 1,2 persen menjadi Rp159 miliar, PGUN merosot 47 persen menjadi Rp44 miliar, TEBE turun 26,2 persen menjadi Rp20 miliar, sedangkan FAST berhasil memangkas rugi bersih sebesar 59 persen menjadi Rp57 miliar.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author