IHSG Ditutup Melemah 0,98 Persen Tertekan Aksi Jual Investor Asing
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (22/6) di zona merah, seperti dilansir dari Detik Finance. Indeks mengalami penurunan sebesar 0,98% hingga mendarat ke level 6.116,69.
Pelemahan indeks tetap terjadi meski sejumlah saham mencatat penguatan besar. Saham BYAN melonjak hingga 20%, disusul AMRT yang naik 4,44%, dan CASA yang menguat 3,01%.
Faktor penekan indeks berasal dari penurunan saham-saham berkapitalisasi besar. Saham BBRI tercatat turun 2,05%, TLKM terkoreksi 2,71%, dan BMRI melemah sebesar 2,09%.
Aksi jual oleh investor asing turut membayangi aktivitas pasar modal. Nilai jual bersih asing menembus Rp1,11 triliun, yang mencakup transaksi di pasar reguler maupun keseluruhan pasar.
Dari total 11 sektor yang ditransaksikan, sembilan sektor mencatatkan pelemahan. Sektor bahan baku mengalami koreksi terdalam hingga 2,49%, sementara sektor energi memimpin kenaikan sebesar 1,47%.
Sentimen dari pasar global menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Dow Jones ditutup naik 0,29% ke level 51.712, sedangkan indeks S&P 500 turun 0,37% ke posisi 7.472.
Koreksi juga melanda indeks Nasdaq yang turun 1,33% ke level 26.166. Sementara itu, indeks ETF EIDO mengalami penurunan 2,25% dan MSCI Indonesia melemah sebesar 2,12%.
Perhatian pelaku pasar kini mulai terbagi ke pasar primer. Sebanyak enam perusahaan bersiap untuk melantai di Bursa Efek Indonesia pada periode Juli 2026.
Lima dari perusahaan tersebut saat ini tengah berada dalam proses penawaran awal atau book building. Situasi ini diperkirakan dapat mengurangi fokus investor terhadap aktivitas perdagangan di pasar sekunder.
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), pengelola jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics, menggelar masa penawaran awal pada 22-24 Juni 2026. Perusahaan bersiap mencatatkan sahamnya di bursa pada 7 Juli mendatang.
Emiten kesehatan ini mengoperasikan lima rumah sakit khusus mata serta 11 klinik mata di Indonesia. Layanan kesehatannya meliputi operasi katarak, retina, refraktif, hingga bidang oftalmologi lainnya.
PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), memegang kepemilikan saham JECX sebesar 28% sejak April 2022.
JECX melepas maksimal 487,84 juta saham baru atau setara 8% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Pemegang saham eksisting juga menawarkan sekitar 162,88 juta lembar atau setara 2% saham.
Target penghimpunan dana dari aksi korporasi ini berpotensi mencapai Rp683,18 miliar. Perusahaan menetapkan rentang harga penawaran sebesar Rp1.200 hingga Rp1.400 per lembar saham.
Dana hasil IPO akan dialokasikan untuk mempercepat pelunasan utang. JECX berencana membayar pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp49 miar dan Bank HSBC Indonesia Rp100 miliar.
Selanjutnya, dana senilai Rp185 miliar didistribusikan kepada entitas anak perusahaan. Nitra Sanata Bali mendapatkan Rp50 miliar, Orbita Rp100 miliar, dan JEC Candi Sejahtera Rp35 miliar.
Sisa dana yang diperoleh dari penawaran saham perdana tersebut akan digunakan untuk modal kerja. Penggunaan modal kerja operasional ini akan dilakukan secara bertahap sampai akhir tahun 2027.
Tender Wajib SONA dan Penambahan Modal GPSO
PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) bersiap melaksanakan mandatory tender offer (MTO). Langkah ini diambil menyusul pergantian pengendali setelah perusahaan diakuisisi PT Pratama Citra Karunia (PCK).
Saham yang menjadi target penawaran wajib mencapai 50,53 juta lembar dengan harga Rp2.284 per saham. Total nilai keseluruhan dari transaksi tender wajib ini menyentuh angka Rp115,43 miar.
Proses penawaran dijadwalkan berlangsung selama 30 hari, mulai 23 Juni sampai 22 Juli 2026. Pemegang saham yang berpartisipasi akan menerima pembayaran paling lambat pada 3 Agustus 2026.
Setelah MTO selesai, porsi kepemilikan PCK atas saham SONA diproyeksikan meningkat menjadi 52,63%. Sebaliknya, jumlah kepemilikan saham oleh publik berpotensi mengalami pengurangan drastis.
Sementara itu, PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) berencana menerbitkan 66,67 juta saham baru melalui PMTHMETD. Jumlah saham baru tersebut setara dengan 10% dari modal ditempatkan perseroan.
Harga pelaksanaan aksi korporasi ini ditetapkan sebesar Rp427 per lembar saham. Melalui penerbitan saham baru tersebut, nilai penambahan modal GPSO ditargetkan mencapai Rp28,5 miliar.
Seluruh dana hasil PMTHMETD dialokasikan untuk mendanai pembelian aset tetap milik PT Jakarta Indah Casting (JIC). Total nilai transaksi pengambilalihan aset manufaktur ini mencapai Rp78,5 miliar.
Aset produktif tersebut berupa lahan seluas 15.400 meter persegi, gedung pabrik, serta mesin ferro casting di EJIP. Sisa kebutuhan dana sebesar Rp50 miliar akan dipenuhi dari pinjaman bank.
GPSO memperoleh fasilitas pinjaman dari PT Bank China Construction Bank Indonesia dengan tenor 120 bulan. Fasilitas kredit jangka panjang tersebut memiliki tingkat suku bunga sebesar 9% per tahun.
PIMSF Pulogadung selaku pemegang saham pengendali dengan porsi 36,95% akan menjadi pembeli siaga. Pascaaksi korporasi ini, persentase kepemilikan pemegang saham publik diperkirakan terdilusi sekitar 9,09%.