IHSG Berpotensi Menguat Saat Harga Minyak Tekan Pasar Global
Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi bergerak menguat pada perdagangan Selasa setelah sebelumnya ditutup naik 1,59 persen, meskipun tekanan inflasi global dan lonjakan harga minyak mentah memicu pergerakan variatif di bursa internasional.
Penguatan indeks domestik masih dibayangi aksi jual bersih investor asing senilai sekitar Rp397 miliar pada perdagangan sebelumnya. Penjualan melanda sejumlah saham seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, PT Indosat Tbk, PT Barito Renewables Energy Tbk, dan PT Astra International Tbk.
BNI Sekuritas memperkirakan pergerakan indeks akan berada dalam rentang konsolidasi dengan kecenderungan menguat pada area support 6.300-6.330 dan resistance 6.450-6.500.
Di pasar internasional, bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam pada perdagangan Senin akibat melonjaknya harga minyak mentah West Texas Intermediate sebesar 1 persen menjadi US$85,30 per barel dan ketegangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,37 persen ke level 53.533,94 dan S&P 500 melemah 0,13 persen ke posisi 7.775,25. Sebaliknya, Nasdaq Composite menguat 0,12 persen ke posisi 26.761,55 ditopang lonjakan pendapatan pengembang kecerdasan buatan Anthropic yang mendongkrak saham sektor semikonduktor.
Kepala ahli strategi pasar di Miller Tabak + Co Matt Maley memberikan analisisnya terkait kondisi imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10-tahun yang terdorong di atas level 4,7 persen.
"Situasi di Timur Tengah sangat mengkhawatirkan, dan imbal hasil nota Treasury AS tenor 10-tahun kembali terdorong ke atas level 4,7%," kata Matt Maley, Kepala Ahli Strategi Pasar di Miller Tabak + Co.
Ia menambahkan bahwa pergerakan yield jangka panjang tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.
"Dengan imbal hasil jangka panjang yang tetap tinggi bahkan setelah rilis data inflasi pekan lalu yang cenderung melandai, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para investor," kata Matt Maley, Kepala Ahli Strategi Pasar di Miller Tabak + Co.
Mengenai ketegangan diplomatik di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan konfirmasi singkat terkait keberlanjutan kesepakatan dengan Iran yang berakhir pada pertengahan Agustus.
"Tidak," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi konflik berkepanjangan.
"(Investor) mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa perang selalu berakhir. Saya pikir tidak ada yang memperhitungkan fakta bahwa ini masih bisa berlanjut saat kita mendekati akhir musim panas," kata David Morrison, Analis Pasar Senior Trade Nation.
Sementara itu, sektor korporasi dan prospek pertumbuhan fundamental mulai menjadi fokus utama investor dalam menghadapi rezim suku bunga tinggi.
"Investor semakin fokus dan khawatir terhadap membengkaknya jumlah utang AS dan minimnya disiplin fiskal Amerika," kata Anthony Saglimbene, Analis Ameriprise.
Ia menyoroti pentingnya kinerja perusahaan dalam menjaga stabilitas pergerakan saham.
"Akan menjadi semakin penting bagi fundamental korporasi dan momentum AI untuk terus memenuhi ekspektasi jika pasar saham ingin tetap mengabaikan lingkungan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama," kata Anthony Saglimbene, Analis Ameriprise.
Di kawasan Asia, bursa saham bergerak bervariasi dengan indeks Nikkei 225 naik 0,74 persen dan Hang Seng Hong Kong melesat 1,34 persen, sementara pelaku pasar global kini menantikan rilis risalah rapat Federal Reserve serta laporan keuangan emiten ritel Walmart dan Target.