IHSG Anjlok ke Level 5693 pada Pembukaan Perdagangan

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 247 basis poin atau sebesar 4,15 persen ke level 5.693 pada perdagangan Kamis (4/6) pagi pukul 10.02 WIB, setelah hari sebelumnya ditutup terkoreksi 4,11 persen pada posisi 5.941, dilansir dari Detik Finance.

Kemerosotan ini melanjutkan tren tekanan jual yang signifikan dari perdagangan sebelumnya, dengan penurunan terbesar dipimpin oleh saham BBCA sebesar minus 3,17 persen, TPIA minus 9,9 persen, BMRI minus 2,22 persen, BBRI minus 3,1 persen, dan AMMN minus 9,37 persen.

Kondisi ini dipengaruhi oleh pergerakan bursa global serta melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melampaui level psikologis Rp 18.000, sehingga memicu kekhawatiran atas stabilitas makroekonomi dalam negeri.

"Pelemahan pasar domestik sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang bergerak di zona merah, dipicu meningkatnya ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran," tulis MNCS Retail Research dalam hasil analisisnya, Kamis (4/6/2026).

Aksi jual oleh investor asing turut memperparah tekanan pada pasar saham domestik, dengan akumulasi penjualan bersih yang bernilai cukup besar menjelang penurunan ini.

"Tekanan jual juga masih datang dari investor asing, dengan tercatat net foreign sell sebesar Rp 993,23 miliar pada perdagangan 3 Juni 2026," terang MNCS Retail Research lagi.

Di sisi lain, analis dari lembaga sekuritas pelat merah melihat bahwa penurunan tajam ini telah mematahkan beberapa level pertahanan teknikal yang sebelumnya terbentuk pada tahun lalu.

"Struktur harga masih menunjukkan pola downtrend dengan pembentukan lower high dan lower low yang berlanjut. Belum terlihat adanya sinyal pembalikan tren yang kuat pada grafik mingguan," terang BRI Danareksa dalam hasil analisisnya.

Jika tren penurunan ini tidak kunjung mereda, indeks saham nasional diperkirakan dapat merosot lebih dalam ke area konsolidasi historis lama atau bahkan menuju batas psikologis di level 5.000.

"Perlu diingat, area support dan resistance di atas merupakan analisa teknikal berdasarkan pergerakan harga historis. Arah IHSG selanjutnya juga akan sangat ditentukan oleh sentimen pasar, kondisi makroekonomi, arus dana asing, serta katalis domestik dan global yang berkembang saat ini," tegas BRI Danareksa Sekuritas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author