IHSG Anjlok 4,94 Persen Menembus Level Support Krusial 6.000

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam dan ditutup melemah pada perdagangan sesi I siang ini. Sentimen negatif melanda pasar domestik di saat mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru bergerak di zona hijau.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, IHSG melemah signifikan sebesar 4,94 persen ke posisi 5.889 pada Rabu (3/6/2026). Penurunan tajam ini juga diikuti oleh Indeks LQ45 yang merosot 4,64 persen menuju level 590,55.

Sepanjang sesi pertama, IHSG sempat bertahan di level tertinggi 6.213 sebelum akhirnya terhempas hingga menyentuh titik terendah di 5.876. Melalui pergerakan ini, indeks acuan pasar modal Indonesia resmi menembus batas support krusialnya di level 6.000.

Kondisi pasar menunjukkan tekanan jual yang sangat masif. Tercatat hanya 35 saham yang berhasil menguat, sementara 714 saham bergerak melemah, dan 64 saham lainnya berjalan stagnan.

Sektor barang baku, energi, dan infrastruktur menjadi motor utama kejatuhan dengan koreksi masing-masing sebesar 10,2 persen, 7,16 persen, dan 6,72 persen. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menghuni jajaran top losers dan menekan pergerakan indeks.

Pelemahan indeks didorong oleh aksi jual pada saham-saham blue chip. Berikut adalah deretan emiten pemicu koreksi terdalam IHSG siang ini:

Daftar 10 Saham Pemberat (Top Losers) IHSG Sesi I 3 Juni 2026
No Nama Emiten Poin Tekanan
1 PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 17,71
2 PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 17,34
3 PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 16,48
4 PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 14,7
5 PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 10,56
6 PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) 10,36
7 PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 9,23
8 PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 8,9
9 PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 8,65
10 PT Mayapada Hospital Tbk (SRAJ) 6,95

Selain nama-nama di atas, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) merosot 15 persen dan PT Remala Abadi Tbk (DATA) jatuh 14,9 persen. Saham AMMN sendiri mengalami penurunan harga sebesar 14,7 persen.

Rapor Merah Rating DIM dan Isu Penurunan Peringkat Indonesia

Tekanan berat pada pasar saham dipicu oleh rilis laporan Moody's Ratings yang memberikan peringkat Baa2 untuk PT Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif. Peringkat provisional (P)Baa2 juga diberikan untuk program global medium-term note (MTN) tanpa jaminan DIM.

Langkah Moody's menyelaraskan peringkat institusi pengelola investasi di bawah BPI Danantara tersebut dengan peringkat utang Indonesia. Kabar ini diperkeruh oleh beredarnya rumor mengenai laporan S&P Global Ratings yang berpotensi memangkas peringkat kredit Indonesia menjadi BBB-.

“Pelemahan (IHSG) ini juga dipengaruhi oleh beredarnya rumor mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings menjadi BBB-,” papar Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya, Rabu siang.

Apabila pemangkasan rating terjadi, Indonesia tetap berada dalam level layak investasi (investment grade). Dampaknya diprediksi memicu penyesuaian nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi, namun minim risiko arus modal keluar yang didorong mandat investasi.

Tekanan Kurs Rupiah dan Penurunan Surplus Perdagangan

Kondisi pasar modal kian tertekan menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.935/US$ di pasar spot. Depresiasi rupiah ini memicu risiko nilai tukar bagi pemodal internasional dan menggerus sentimen di bursa domestik.

Dari sisi makroekonomi, surplus Neraca Perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut tajam menjadi US$89,1 juta dari periode sebelumnya yang mencapai US$3,3 miliar. Lonjakan pertumbuhan impor yang melampaui ekspor menjadi penyebab utama.

“Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sepanjang 72 bulan tersebut,” terang Panin.

Di sisi lain, Phintraco Sekuritas mengungkapkan investor tengah bersikap cemas menantikan pengumuman aksesibilitas pasar global oleh MSCI pada pertengahan Juni 2026. Evaluasi ini mencakup transparansi kepemilikan saham dan likuiditas emiten dalam negeri.

“Pasar domestik menunggu keputusan MSCI terkait hasil evaluasi reformasi pasar modal Indonesia,” jelas Phintraco terhadap penyebab pelemahan IHSG yang amat dalam, Rabu.

Perbandingan dengan Performa Bursa Saham Asia

Situasi di Bursa Efek Indonesia berbanding terbalik dengan tren regional. Mayoritas bursa saham Asia justru menguat, dipimpin oleh NIKKEI 225 yang melonjak 2,98 persen dan TOPIX naik 2,18 persen.

Indeks kawasan lain seperti PSEi Filipina naik 1,99 persen, Weighted Index Taiwan naik 1,98 persen, dan CSI300 China menguat 1,07 persen. Straits Time Singapura dan KLCI Malaysia juga terapresiasi masing-masing 0,78 persen dan 0,49 persen.

Koreksi hanya melanda beberapa indeks selain IHSG. Hang Seng Hong Kong turun 1,69 persen, SENSEX India melemah 1,22 persen, dan Ho Chi Minh Stock Exchange Vietnam terkoreksi 0,94 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author