IHSG Ambles 3,08 Persen Imbas Kebijakan MSCI dan Sinyal Keras FTSE

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok signifikan sebesar 3,08 persen atau terkoreksi 202,97 poin ke level 6.396,27 pada penutupan sesi pertama perdagangan hari Selasa (19/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi korporasi rebalancing indeks global MSCI serta adanya aturan baru dari FTSE Russell terkait saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi.

Data Refinitiv yang dilansir dari CNBC Indonesia menunjukkan kejatuhan indeks turut menggerus kapitalisasi pasar hingga Rp402 triliun menjadi Rp11.137 triliun. Sebanyak 639 emiten tercatat melemah, sementara nilai transaksi menyentuh Rp15,11 triliun dengan keterlibatan 26,12 miliar saham dalam 1,71 juta kali transaksi.

Selain sentimen indeks global, performa pasar domestik kian tertekan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus level Rp17.730 per dolar AS pada pukul 12.49 WIB. Sektor bahan baku menjadi penekan utama dengan penurunan hingga 8,4 persen akibat kejatuhan saham-saham grup Prajogo Pangestu seperti Ekamas Mora Republik (MORA) dan Chandra Asri (TPIA).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia bersama jajaran DPR RI dan Danantara untuk memantau situasi pasar secara langsung. OJK menilai pergerakan indeks saat ini merupakan penyesuaian yang lebih berbasis pada fundamental pasar.

"Kita pada hari ini kedatangan Prof Sufmi Dasco (Wakil DPR RI), Pak Rosan Roeslani (CEO Danantara), Pak Dony Oskaria (COO Danantara) dan didampingi direktur bursa pada hari ini hadir untuk menyikapi perkembangan terkini. Terima kasih atas perhatian Prof Dasco dan jajaran Danantara semua." kata Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.

Pihak otoritas menyatakan bahwa koreksi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir masih berada dalam kategori moderat dan polanya sejalan dengan pelemahan yang dialami oleh bursa saham di tingkat regional.

"Mencermati perkembangan saat ini, pelemahan IHSG dalam beberapa hari ini masih sejalan dengan tren pelemahan bursa regional. Bursa lain ada yang turun lebih dalam dan naik tipis pada hari ini ini seiring dengan tensi geopolitik dan perang Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter yang kami perkirakan hawkish dan respons atas keputusan rebalancing MSCI, dan masih terus terjadi ketika kemarin dibuka kembali setelah bursa libur." tutur Friderica Widyasari Dewi.

OJK menambahkan bahwa volatilitas ini adalah bagian dari konsekuensi logis atas rangkaian transformasi yang sedang diterapkan di dalam pasar modal Indonesia demi meningkatkan integritas.

"Namun kalau kita lihat bahwa pelemahannya itu masih moderate yaitu di 1,98% pada hari pertama pengumuman MSCI, dan juga kemarin di 1,85% di 18 Mei setelah libur panjang." ujar Friderica Widyasari Dewi.

Kondisi pergerakan IHSG saat ini dipandang telah mencerminkan mekanisme penemuan harga yang lebih objektif dan tidak lagi sekadar digerakkan oleh sentimen jangka pendek.

"Dinamika ini menunjukkan penyesuaian yang lebih berbasis fundamental. Jadi selalu seperti kami sampaikan, kami menyampaikan bahwa ini adalah konsekuensi logis dari berbagai transformasi di pasar modal yang kita lakukan. Jadi kita melihat pergerakan indeks kita sudah lebih secara fundamental." sebut Friderica Widyasari Dewi.

Indeks domestik juga dilaporkan masih bergerak selaras dengan pergerakan beberapa subindeks utama lain yang menjadi acuan pasar seperti LQ45, IDX30, serta IDX80.

"Dan juga sekarang IHSG pergerakannya juga relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI maupun subindeks utama seperti LQ45 dan juga IDX30 dan juga IDX80. Ini mencerminkan price discovery yang lebih fundamental, dimana pergerakan saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentimen semata. Jadi ini menurut kami juga sangat baik perbaikan-perbaikan yang dilakukan." jelas Friderica Widyasari Dewi.

Di tengah tekanan indeks global, pasar domestik diklaim masih memiliki bantalan pertumbuhan yang bersumber dari aktivitas investasi para pemodal ritel di tanah air.

"Dan juga kami bisa sampaikan, ini ada berita bagusnya juga bahwa di tengah berita rebalancing MSCI, saya bisa sharing kepada teman-teman bahwa nilai aktiva bersih NAB Reksadana kita di tahun ini justru meningkat sebesar Rp49,71 triliun, yaitu dari net subscription dari investor retail kita. Jadi meningkat sekitar 6,39% sehingga total AUM kita adalah Rp718,44 triliun." kata Friderica Widyasari Dewi.

OJK mencatat adanya pertumbuhan basis investor baru yang signifikan sepanjang tahun berjalan sebagai indikator kepercayaan publik terhadap sistem pasar keuangan nasional.

"Juga berita baiknya adalah bahwa walaupun ada dinamika seperti saat ini, kita melihat bahwa perspektif investor ini juga meningkat dalam hal confidence untuk masuk ke market, ditandai dengan peningkatan 7 juta investor retail baru di pasar modal kita,sehingga dari year to date penambahannya sudah 7 juta investor baru di pasar modal Indonesia." urai Friderica Widyasari Dewi.

Seluruh pembenahan regulasi ditargetkan untuk membentuk ekosistem pasar keuangan yang transparan, terbuka, dan memiliki basis kepemilikan yang lebih sehat serta merata.

"Jadi ini juga melihat bahwa reformasi ini diarahkan untuk memastikan bahwa pasar keuangan Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi ukuran, tetapi juga kita kedepankan dari aspek fundamentalnya, integritas, kemudian keterbukaan dan lain-lain." papar Friderica Widyasari Dewi.

Kunjungan kerja dari pimpinan parlemen serta badan pengelola investasi negara diharapkan mampu memberikan kepastian sekaligus menenangkan psikologis para pelaku pasar domestik.

"Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Prof. Sufmi Dasco dan juga Pak Rosan dan Pak Dony yang juga hadir hari ini. Kami juga kasih mohon berkenan untuk memberikan beberapa hal yang dapat disampaikan kepada media, yang tentunya untuk disampaikan kepada market kita, pada pelaku pasar kita, terutama untuk investor retail domestik kita." pungkas Friderica Widyasari Dewi.

Di sisi lain, dokumen resmi FTSE Russell tertanggal 13 Mei 2026 menyatakan bahwa saham dengan indikasi kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (HSC) akan dihapus dari indeks pada harga nol mulai 22 Juni 2026.

"Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026," tulis FTSE Russell dalam dokumen resminya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author