IHSG Amblas 3,54 Persen Dipicu Pelemahan Saham Berbobot Besar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Dikutip dari Bloombergtechnoz, indeks jatuh sebesar 3,54% dan mendarat di level 6.094 pada penutupan bursa.
Koreksi dalam ini dipicu oleh rontoknya saham-saham berkapitalisasi besar. Saham ASII dan BRMS menjadi penekan utama, yang kemudian diperberat oleh penurunan saham BYAN.
Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan IHSG terus tertahan di zona merah dengan pelemahan yang semakin larut. Indeks bergerak pada rentang batas atas 6.378 hingga menyentuh level terendah di 6.080.
Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa penurunan ini turut dipengaruhi oleh kebijakan baru Menteri ESDM. Kebijakan tersebut menginstruksikan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas segera menyerahkan hak partisipasi 10% kepada Pemerintah Daerah.
Faktor lain yang direspon negatif oleh pasar adalah kebijakan tata kelola ekspor CPO dan batu bara terpusat melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Langkah ini, bersamaan dengan kenaikan BI Rate, menekan kinerja sektor perbankan dan pertambangan.
Sentimen negatif kian bertambah setelah rupiah melemah 0,28% ke posisi Rp17.654/US$ di pasar spot berdasarkan data Bloomberg. Mata uang Garuda sempat tergerus hingga level intraday terendah di Rp17.685/US$, mendekati rekor All Time Low Rp17.705/US$.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi harian mencapai Rp18,49 triliun. Total volume perdagangan menyentuh 35,77 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,14 juta kali.
Kondisi pasar didominasi oleh tren bearish dengan 663 saham melemah dan hanya 88 saham yang menguat, sementara 69 saham lainnya stagnan. Sektor energi, barang baku, dan konsumen non-primer menjadi motor pelemahan terbesar.
Panin Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan jual dipicu oleh kekhawatiran terhadap pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia. Badan ini akan mengelola ekspor komoditas strategis secara bertahap mulai 1 Juni 2026 hingga beroperasi penuh pada 1 September 2026.
Analis Panin Sekuritas menambahkan bahwa wacana pengenaan royalti serta pungutan tambahan terus membayangi sektor komoditas domestik. Di sisi lain, langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% dinilai kurang akomodatif bagi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan bursa saham regional Asia. Sebagian besar indeks seperti KOSPI, KOSDAQ, TAIEX, NIKKEI 225, TOPIX, PSEI, SETI, dan Straits Times justru berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau.
Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan, rupiah telah melemah sekitar 5,5%. Sementara itu, IHSG mengalami penurunan total hingga 29% di tengah posisi yield obligasi pemerintah yang masih bertahan tinggi.