Hujan Impor Migas RI: ‘Silent Killer’ di Balik Sakitnya Rupiah
Hujan Impor Migas RI: ‘Silent Killer’ di Balik Sakitnya Rupiah
03 June 2026 17:30
Bloomberg Technoz, Jakarta – Rupiah makin tertekuk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) usai usai ditutup di level Rp17.957/US$, menjadikannya rekor terlemah sepanjang sejarah sejak Indonesia merdeka.
Berbagai analisis seputar penyebab pelemahan rupiah yang tak kunjung bisa direm pun terus bergulir.
Isu penyusutan neraca perdagangan, kekhawatiran risiko inflasi, sentimen terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah, hingga faktor eksternal akibat ketidakpastian geopolitik global banyak dituding menjadi faktor penyebab runtuhnya mata uang Garuda.
Sejatinya, padahal, pelemahan rupiah hingga hari ini tidak bisa dilepaskan dari satu faktor yang terjadi di sektor riil, yaitu; pembengkakan impor komoditas energi alias minyak dan gas (migas) yang menyedot devisa dalam jumlah masif.
Kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi meningkat drastis dalam waktu singkat. […] Ini menunjukkan bahwa surplus ekspor Indonesia sebenarnya banyak terkuras untuk membayar kebutuhan energi [yang] diimpor.
Ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi
Dalam kaitan itu, ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi mengatakan permintaan dolar yang tinggi untuk kebutuhan sektor energi tecermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru yang menunjukkan lonjakan nilai impor migas.
Baca Juga
Sepanjang Januari—April 2026, nilai impor migas Indonesia menembus US$4,60 miliar (sekitar Rp82,57 triliun).
Tidak tanggung-tanggung, angka itu membengkak 82,52% dibandingkan dengan rentang yang sama tahun lalu.
Kenaikan terbesar dari impor migas pada periode tersebut ditopang oleh pembelian hasil minyak—termasuk bahan bakar minyak (BBM) — yang menanjak 87,76% dan minyak mentah (crude) yang juga terkerek 67,49%.
“Artinya, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi meningkat drastis dalam waktu singkat,” ujar Hadi saat dihubungi, Rabu (3/6/2026).
Dia menerangkan setiap kenaikan impor migas akan secara langsung meningkatkan permintaan greenback di pasar domestik.
“Dengan kurs saat ini, impor migas April 2026 setara dengan sekitar Rp82,6 triliun yang harus dibayar ke luar negeri. Ini bukan angka kecil,” ujarnya.
Sumbangsih Besar
Untuk diketahui, impor migas tercatat menyumbang sekitar 18% dari total impor nasional pada empat bulan pertama tahun berjalan yang mencapai US$25,21 miliar.
“Ketika kebutuhan dolar meningkat [untuk impor komoditas energi], sementara pasokan devisa tidak bertambang secara signifikan; tekanan terhadap rupiah menjadi sulit dihindari,” terangnya.
“Dalam analisis saya, ada yang mengkhawatirkan, yaitu kondisi neraca migas Indonesia yang terus mengalami defisit.”
Dalam konteks itu, defisit perdagangan migas Indonesia dalam kurun Januari—April 2026 tercatat menembus US$8,52 miliar atau sekitar Rp153 triliun.
Nilai tersebut bahkan lebih besar dibandingkan dengan surplus neraca perdagangan nasional pada periode yang sama di angka US$5,64 miliar.
“Ini menunjukkan bahwa surplus ekspor Indonesia sebenarnya banyak terkuras untuk membayar kebutuhan energi [yang] diimpor,” jelas Hadi.
Dengan demikian, dia menggarisbawahi bahwa pelemahan rupiah saat ini bukan semata-mata terjadi akibat faktor eksternal seperti penguatan dolar AS maupun ketegangan geopolitik.
“Ada persoalan struktural yg terus berulang, yaitu ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan LPG [gas minyak cair],” tegasnya.
“Selama produksi migas domestik terus menurun, sementara konsumsi energi meningkat, setiap kenaikan harga minyak dunia akan berubah menjadi tekanan ganda, yaitu memperbesar impor migas sekaligus melemahkan nilai tukar rupiah.”
Dengan demikian, dia menilai bahwa alarm isu energi tidak lagi sekadar soal pasokan, tetapi sudah menjelma menjadi “persoalan serius bagi stabilitas fiskal dan ketahanan ekonomi nasional.”
Sekadar catatan, BPS melaporkan nilai impor minyak mentah Indonesia pada April 2026 saja mencapai US$1,09 juta, naik 67,49% atau sekitar US$439,9 juta dari besaran April 2025 senilai US$651,7 juta.
Dari besaran itu, Pudji menyatakan negara asal impor terbesar berasal dari Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan.
”Nah, kenaikan impor migas 82,52% ini disebabkan oleh peningkatan nilai impor minyak mentah yaitu 67,49% yang berasal dari negara terbesarnya adalah Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan,” kata Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Impor hasil minyak pada April 2026 tercatat sebesar US$3,5 juta atau naik 87,76% sekitar US$1,63 juta dari besaran April 2025 sebesar US$1,86 juta.
Dari besaran itu, Pudji mengungkapkan negara asal impor terbesar produk olahan minyak berasal dari Malaysia, Singapura, dan Mesir.
“Kemudian, peningkatan nilai impor hasil minyak sebesar 87,76% dengan negara asal impornya itu Malaysia, Singapura, dan Mesir,” ujar Pudji.
Di sisi lain, Pudji mencatat impor komoditas migas Indonesia pada April 2026 mencapai US$4,6 miliar atau naik 82,52% secara tahun atau year on year (yoy).
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026, impor migas Indonesia tercatat sebesar US$12,93 miliar atau naik 17,58% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$11 miliar.
“Nilai impor migas sebesar US$4,60 miliar atau meningkat 82,52% secara tahunan,” ujar Pudji.
Secara umum, BPS mencatat impor Indonesia pada sepanjang April 2026 meningkat sebesar 22,49% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya ke angka US$25,21 miliar.
Impor migas tercatat naik sebesar 82,52% pada periode ini menjadi sebesar US$4,60 miliar. Sementara itu, untuk impor nonmigas terjadi kenaikan sebesar 14,11% menjadi US$20,62 miliar pada April 2026, naik apabila dibandingkan dengan April 2025 sebesar US$18,07 miliar.
“Peningkatan nilai impor secara tahunan ini didorong oleh peningkatan impor nonmigas dengan andil peningkatan sebesar 12,39%,” kata Pudji.
Sementara itu, sepanjang 2025, BPS mencatat Indonesia telah mengimpor migas senilai US$32,77 miliar. Singapura menjadi negara asal impor migas tertinggi pada tahun lalu.
“Negara asal impor terbesar migas pada 2025 ini Singapura yaitu US$9,72 miliar,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).
Di posisi kedua ada Malaysia dengan nilai impor migas sebesar US$5,31 miliar. Kemudian, AS dengan nilai impor migas mencapai US$3,01 miliar.
Ateng menuturkan Arab Saudi menduduki posisi ketiga dengan nilai impor sebanyak US$2,59 miliar kemudian disusul Nigeria dengan nilai impor mencapai US$2,45 miliar.