Hiperemesis Gravidarum Ancam Ibu Hamil, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
Mual dan muntah parah yang memicu dehidrasi hingga penurunan berat badan ekstrem pada masa kehamilan menandakan kondisi hiperemesis gravidarum. Kondisi ini berbeda dari morning sickness biasa yang umumnya membaik pada trimester kedua. Dikutip dari HaiBunda, hiperemesis gravidarum menyebabkan ibu hamil kehilangan lebih dari 5 persen berat badan sebelum hamil.
American College of Obstetricians and Gynergologists (ACOG) menegaskan bahwa gangguan ini membutuhkan penanganan medis intensif agar tidak mengganggu perkembangan janin. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet tahun 2026 mengungkapkan hiperemesis gravidarum melibatkan interaksi kompleks antara genetik, respons metabolisme, dan hormon. Evaluasi klinis kini difokuskan pada pemenuhan nutrisi, pencegahan dehidrasi, serta pemberian obat antimual yang aman.
Penelitian di jurnal Nature pada 2023 menemukan bahwa hormon Growth Differentiation Factor-15 (GDF15) yang dihasilkan plasenta memegang peranan kunci. Ibu hamil dengan sensitivitas tinggi terhadap GDF15 berisiko tinggi mengalami mual parah karena hormon ini bekerja pada pusat mual di batang otak.
Perubahan hormon human chorionic gonadotropin (hCG), estrogen, dan progesteron turut memperlambat pengosongan lambung. Variasi genetik pada reseptor GFRAL juga menyebabkan kondisi ini kerap berulang pada wanita yang memiliki riwayat keluarga serupa. Lonjakan hormon hCG yang sangat tinggi membuat wanita dengan kehamilan kembar atau hamil anggur lebih rentan mengalami hiperemesis gravidarum. Riwayat migrain, mabuk perjalanan, serta kejadian pada kehamilan sebelumnya turut meningkatkan risiko.
Tingkat Keparahan Gejala
Tenaga kesehatan mengukur derajat gejala menggunakan instrumen seperti Pregnancy-Unique Quantification of Emesis (PUQE) atau HyperEmesis Level Prediction (HELP). Penilaian klinis membagi tingkat keparahan berdasarkan kondisi fisik ibu. Tingkat 1 ditandai dengan mual muntah beberapa kali sehari, penurunan nafsu makan, dan lemas, namun kondisi umum tubuh masih relatif baik. Penanganan awal dilakukan melalui penyesuaian pola makan dan istirahat.
Tingkat 2 menunjukkan gejala dehidrasi seperti bibir kering, urine pekat ber volume sedikit, jantung berdebar, dan pusing saat berdiri. Rawat inap sering diperlukan untuk pemberian cairan infus dan suplemen elektrolit. Tingkat 3 merupakan kondisi paling berat yang berisiko menurunkan kesadaran, menurunkan tekanan darah, hingga memicu gangguan fungsi hati dan ginjal. Pasien membutuhkan perawatan intensif serta pemantauan ketat dari dokter spesialis kandungan.
Perbedaan dengan Morning Sickness
Morning sickness tidak memicu dehidrasi parah dan masih memungkinkan ibu hamil mengonsumsi makanan. Sementara itu, hiperemesis gravidarum membuat tubuh menolak asupan cairan dan makanan secara terus-menerus.
Muntah berulang memicu pemecahan lemak tubuh menjadi keton yang terdeteksi dalam pemeriksaan urine. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis, komplikasi serius seperti defisiensi vitamin B1 (tiamin) yang memicu ensefalopati Wernicke dapat terjadi.
Langkah Pengobatan dan Pencegahan
Pemeriksaan laboratorium meliputi analisis darah dan urine untuk mengevaluasi kadar elektrolit, gula darah, serta fungsi organ. Dokter juga dapat menggunakan USG untuk melihat usia kehamilan dan jumlah janin.
Pengobatan dilakukan dengan pemberian suplemen vitamin B6 (piridoksin), vitamin B1 (tiamin), serta obat antimual seperti ondansetron atau metoklopramid sesuai resep dokter. Kasus berat membutuhkan nutrisi parenteral atau selang makan enteral.
Pencegahan keparahan dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan tinggi protein dan karbohidrat dalam porsi kecil setiap 2–3 jam. Ibu hamil disarankan menghindari bau pemicu mual, menjaga kecukupan cairan, dan rutin memeriksakan kehamilan.