Harga Tembaga Menguat Jelang Keputusan Tarif Impor AS
Harga tembaga mengalami penguatan di New York dan London pada awal bulan yang krusial ini. Pasar saat ini tengah mengantisipasi kejelasan lebih lanjut terkait kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump mengenai rencana pengenaan tarif impor logam.
Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, Menteri Perdagangan AS memiliki tenggat waktu hingga 30 Juni untuk menyerahkan rekomendasi terbaru kepada Presiden Donald Trump. Rekomendasi tersebut berkaitan dengan tarif untuk tembaga olahan atau refined copper, yang merupakan bentuk tembaga dengan volume perdagangan tertinggi.
Menjelang keputusan strategis tersebut, kesenjangan harga tembaga di AS dibandingkan dengan pasar global kembali melebar. Kondisi ini memicu lonjakan arus pengiriman logam menuju pelabuhan-pelabuhan di Amerika.
Situasi tersebut memperkuat faktor pendukung lain yang menjaga tren harga tetap tinggi. Komoditas tembaga sendiri tercatat telah membukukan kenaikan sebesar 5% sepanjang Mei.
Faktor lain yang mendorong kenaikan harga logam adalah upaya negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran. Di samping itu, antusiasme pasar terhadap aset-aset yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) turut memberikan dampak positif ke pasar tembaga.
Goldman Sachs Group Inc. mengonversi situasi ini dengan menaikkan proyeksi harga tembaga di London Metal Exchange (LME). Lembaga ini mengerek perkiraan akhir tahun lebih dari 10% karena melihat ketatnya pasar akibat aktivitas penimbunan stok oleh AS serta pasokan tambang yang lebih rendah dari ekspektasi.
Komoditas tembaga diprediksi bakal menutup tahun 2026 pada level US$13.735 per ton. Angka ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yang berada di posisi US$12.465 per ton.
$$"Impor AS melampaui ekspektasi pada semester I-2026, dan kami memperkirakan impor AS akan kembali meningkat dalam sebulan mendatang, mencerminkan peluang arbitrase impor yang kini terbuka," tulis para analis yang dipimpin Aurelia Waltham dalam sebuah catatan.$$
Skenario dasar yang disusun oleh bank investasi tersebut memproyeksikan bahwa AS akan kembali menangguhkan penerapan tarif pada tembaga olahan.
Departemen Perdagangan AS sebelumnya sempat mengejutkan pelaku pasar tembaga pada tahun lalu melalui keputusan untuk tidak memberlakukan pungutan. Sebaliknya, lembaga tersebut merekomendasikan penerapan tarif bertahap yang dimulai dari angka 15% pada hari pertama tahun 2027.
Rekomendasi awal inilah yang dijadwalkan bakal ditinjau ulang oleh kementerian tersebut sebelum berakhirnya bulan ini.
Di LME, harga tembaga terpantau naik 0,4% menuju posisi US$13.687,50 per ton pada Senin pukul 11:44 waktu Shanghai. Sementara itu, kontrak tembaga di Comex bergerak menuju angka penutupan tertinggi sejak 14 Mei setelah mengalami kenaikan sebesar 1% menjadi US$6,45 per pon.
Pergerakan positif juga diikuti oleh logam-logam lainnya di London seiring dengan langkah investor memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Saat ini, AS dan Iran masih berada dalam jalur negosiasi untuk memperpanjang masa gencatan senjata sekaligus membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
Walaupun kepastian mengenai tercapainya kesepakatan tersebut masih dinilai belum menentu, adanya sinyal kemajuan komunikasi berhasil meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Hal ini meminimalkan kecemasan terhadap potensi gangguan yang lebih parah bagi pertumbuhan ekonomi global serta permintaan logam dunia.