Harga Solar Industri Juni 2026 Naik Tekan Operasional Tambang
Lonjakan harga solar industri atau high speed diesel (HSD) B40 untuk periode 1—14 Juni 2026 kian membebani sektor pertambangan. Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, harga keekonomian komoditas ini di wilayah Indonesia Timur rata-rata sudah menembus angka Rp26.200 per liter.
Kondisi tersebut memicu tekanan berat pada pengeluaran operasional perusahaan jasa pertambangan. Menghadapi situasi ini, pelaku usaha terpaksa menerapkan strategi efisiensi pemakaian bahan bakar secara ketat.
Direktur PT Zubay Mining Muhammad Emil mencatat harga solar industri telah meningkat usai jalur distribusi migas dunia di Selat Hormuz ditutup. Menurut penjelasannya, nilai kenaikan tersebut bervariasi karena dipengaruhi oleh faktor pemasok, lokasi wilayah tambang, volume pembelian, hingga kesepakatan kontrak.
Bahkan, Muhammad Emil mengungkapkan bahwa harga solar industri di daerah Sulawesi Tenggara telah menembus Rp31.000 per liter.
“Sehingga cukup memberikan tekanan terhadap biaya operasional tambang, terutama untuk kegiatan hauling dan konsumsi solar alat berat yang konsumsi BBM-nya tinggi,” kata Emil ketika dihubungi, Selasa (2/6/2026).
Guna menekan pengeluaran per ton produksi, manajemen perusahaan pertambangan kini mengoptimalkan pengelolaan armada melalui fleet management system (FMS). Langkah efisiensi juga dilakukan dengan membatasi waktu istirahat alat berat, mengontrol kecepatan unit, serta memperbaiki jalur pengangkutan material.
“Jadi ketika harga solar industri naik, otomatis porsi biaya bahan bakar terhadap total biaya penambangan juga ikut meningkat. Dampaknya paling terasa pada tambang yang memiliki hauling distance panjang, elevasi tinggi, dan utilisasi alat yang besar karena konsumsi solar menjadi sangat signifikan,” kata Emil.
Bagi operasional tambang terbuka, bahan bakar menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar yang menyerap porsi sekitar 20% hingga 40% dari keseluruhan anggaran operasional.
“[Besarnya] tergantung jarak hauling, kondisi jalan tambang, produktivitas alat, serta jenis alat yang digunakan,” tega dia.
Data PT Global Nararya Multitrading, yang merupakan salah satu penyalur BBM industri PT Pertamina Patra Niaga, menunjukkan kenaikan merata sebesar Rp100 per liter di seluruh wilayah pada awal bulan ini.
| Wilayah Distribusi | Harga Baru (per Liter) | Kenaikan |
|---|---|---|
| Area 1 (Sumatra, Jawa, Bali, Madura) | Rp25.850 | Rp100 |
| Area 2 (Kalimantan) | Rp25.950 | Rp100 |
| Area 3 (Sulawesi dan NTB) | Rp26.050 | Rp100 |
| Area 4 (Maluku, NTT, Papua) | Rp26.200 | Rp100 |
Ketua Bidang Hubungan Industri Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Ardhi Ishak Koesen mengonfirmasi bahwa penutupan jalur Selat Hormuz mengerek harga solar industri hingga Rp30.000 per liter di Indonesia Timur. Sementara itu, harga di Kalimantan meroket ke atas Rp20.000 per liter dari posisi sebelumnya sebesar Rp15.000 sampai Rp18.000 per liter.
Tekanan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang berjalan simultan dengan kenaikan harga BBM ini memicu kekhawatiran terhadap potensi pengurangan tenaga kerja secara massal.
“Ya sudah ada yang merumahkan karyawan dampak dari pemotongan RKAB batu bara, karena porsi yang dipotong cukup besar, 25% atau sekitar 200 million ton batu bara,” kata Ardhi ketika dihubungi, baru-baru ini.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meluas dan memicu lonjakan harga solar global ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Hambatan logistik kapal tanker di Selat Hormuz memperketat pasokan dunia, yang diperparah oleh menipisnya stok di Pantai Timur Amerika Serikat akibat musim dingin ekstrem, sehingga mengerek tarif pengiriman rute Teluk Timur Tengah ke Eropa Barat Laut ke level tertinggi sejak 2024.