Pertamina Sebut Harga Pertamax Masih Di Bawah Nilai Keekonomian

Share

PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahwa harga jual Pertamax nonsubsidi yang saat ini dibanderol Rp 16.250 per liter masih berada jauh di bawah nilai keekonomian yang sesungguhnya akibat kondisi geopolitik global.

Penetapan harga di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tersebut dinilai belum mencerminkan nilai pasar yang riil, seperti dilansir dari Detik Oto pada Selasa (16/6/2026).

Struktur nilai jual komoditas ini mengalami penyesuaian signifikan sejak 10 Juni 2026, di mana posisinya terkerek sebesar Rp 3.950 dari angka semula Rp 12.300 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun menjelaskan perihal kondisi ketidaksesuaian nilai jual eceran tersebut dengan parameter pasar modal global saat ini.

"Karena harga Pertamax belum sepenuhnya sesuai mengacu pada harga keekonomian," kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun.

Pihak manajemen menambahkan bahwa langkah penahanan nilai jual ini diambil guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat terhadap produk bahan bakar berkualitas.

"Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50% dari harga keekonomian, di mana dengan RON lebih tinggi dan kualitas lebih baik, harga Pertamax pasti di atas Pertalite secara keekonomian," kata Roberth M V Dumatubun.

Keterlibatan aktif dari jajaran pemerintah bersama pihak korporasi menjadi faktor utama yang menahan regulasi tarif agar tidak melonjak terlalu tinggi di tingkat konsumen.

"Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya..maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi," kata Roberth M V Dumatubun.

Pada kesempatan terpisah, perwakilan manajemen lain memaparkan data perbandingan mengenai estimasi nilai riil bahan bakar RON 92 tersebut jika dilepas sepenuhnya ke mekanisme pasar bebas.

"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," kata VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan.

Fenomena selisih angka ini juga terjadi pada komoditas Pertalite, menyusul beredarnya bukti transaksi di media sosial mengenai struk pembelian tanggal 11 Juni 2026 seharga Rp 10.000 yang menunjukkan nilai riil tanpa subsidi sebesar Rp 18.040 per liter akibat sokongan dana pemerintah sebesar Rp 8.040 per liter.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Harga BBM Pertamax Pertamina
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author