Harga Minyak WTI Merosot di Bawah US$69 Per Barel Akibat Kelebihan Pasokan
Harga minyak dunia mengalami penurunan yang dipicu oleh indikasi meningkatnya kelebihan pasokan global. Kondisi ini diperkuat oleh langkah Arab Saudi yang memotong harga minyak mentah jenis utamanya untuk pasar Asia. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pelonggaran ketegangan di jalur pelayaran internasional turut mempengaruhi situasi pasar.
Arus lalu lintas kapal pengangkut minyak melalui Selat Hormuz kini dilaporkan mulai mengalami peningkatan. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kini diperdagangkan pada level di bawah US$69 per barel. Penurunan ini berlanjut setelah bursa ditutup lebih rendah pada sesi pembukaan pekan ini menyusul hari libur di Amerika Serikat.
Sementara itu, minyak mentah jenis Brent menyentuh kisaran US$72 per barel. Penurunan harga terjadi setelah premi risiko perang yang terbentuk dalam beberapa bulan terakhir sepenuhnya hilang dari pasar.
Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Saudi Aramco, menetapkan kebijakan pemotongan harga jual Arab Light untuk bulan depan sebesar US$11 per barel. Langkah ini membuat harganya menjadi US$1,50 di bawah patokan regional. Kebijakan pemberian diskon harga minyak jenis Arab Light oleh Aramco ini tergolong jarang terjadi. Dua momentum terakhir saat mereka menerapkan strategi serupa terjadi pada masa perang harga tahun 2015 dan 2020.
Sebelumnya, harga minyak dunia sempat anjlok hingga 30 persen pada kuartal kedua. Penurunan tajam tersebut terjadi setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara pemerintah Washington dan Teheran. Kesepakatan politik tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Di sisi lain, sejumlah bank terkemuka mulai mengeluarkan peringatan mengenai risiko kembalinya banjir pasokan di pasar internasional.
"Kami menetapkan target harga minyak sebesar US$60 untuk bulan depan, jadi diperkirakan harganya akan terus merosot," kata Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Management LLC. "Penurunan harga yang diumumkan Saudi biasanya mencerminkan perubahan harga pasar." Kondisi jalur pasokan di Selat Hormuz saat ini sudah dibuka kembali secara parsial. Jalur vital yang menghubungkan para produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global itu sebelumnya sempat mengalami penutupan hampir total akibat konflik.
Meskipun lalu lintas kapal tanker berangsur-angsur pulih, volume pengiriman minyak tercatat masih berada di bawah tingkat sebelum konflik. Sebagian besar perusahaan pengirim barang juga dilaporkan masih bersikap hati-hati dalam mengoperasikan armada mereka.