Harga Minyak Mentah Dunia Naik Tipis Setelah Komentar Donald Trump

Share

Harga minyak mentah dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Kamis pagi setelah sempat anjlok pada sesi sebelumnya. Sentimen pasar ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai perkembangan hubungan internasional.

Donald Trump menyebut bahwa negosiasi antara pihak Amerika Serikat dan Iran kini telah memasuki tahap akhir. Informasi ini dikutip dari Bloombergtechnoz yang melansir laporan Bloomberg News pada Kamis, 21 Mei 2026.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di dekat level US$99 per barel setelah merosot lebih dari 5 persen pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent ditutup di kisaran US$105.

Komentar Trump kepada para jurnalis langsung membangkitkan harapan pasar akan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran. Langkah tersebut dinilai bakal membuka kembali arus logistik energi di Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Sepanjang pekan ini, pergerakan harga minyak mentah terus dihantam oleh berbagai berita yang saling tumpang tindih terkait status negosiasi kedua negara. Meskipun mulai melandai, harga minyak saat ini sebenarnya masih tercatat 40 persen lebih tinggi dibandingkan saat perang pertama kali pecah pada akhir Februari lalu.

Para pelaku pasar secara konsisten mulai memperhitungkan potensi terjadinya deeskalasi mendadak. Hal ini termasuk skenario kesepakatan di mana Iran bersedia membuka kembali jalur pelayaran utama tersebut dan mencairkan jutaan barel minyak yang saat ini tertahan di Teluk Persia.

Meski kesepakatan damai dengan Iran berpotensi menekan harga minyak, kondisi pasar fisik dinilai masih menghadapi tantangan tersendiri. Proses pengiriman logistik dari wilayah produksi menuju tujuan akhir membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Pasar fisik masih berada dalam kekacauan," kata Joe DeLaura, ahli strategi energi global Rabobank.

"Butuh hingga 55 hari untuk mengirim minyak dari Teluk Persia ke tujuan akhirnya, yang berarti persediaan tetap akan terus tergerus selama periode tersebut." ujar Joe DeLaura.

Chief Executive Officer Abu Dhabi National Oil Co, Sultan Al Jaber, pada Rabu mengatakan bahwa sekalipun konflik Iran berakhir segera, arus pasokan minyak Timur Tengah tidak akan sepenuhnya pulih hingga jauh memasuki 2027. Ia menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai gangguan pasokan paling parah yang pernah tercatat.

Persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun sekitar 7,9 juta barel pekan lalu, sejalan dengan estimasi sebelumnya dari kelompok industri yang banyak dijadikan acuan pasar. Ekspor minyak Amerika Serikat juga berada sedikit di bawah level rekor tertinggi baru-baru ini.

Sejumlah tanda awal meningkatnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga mulai mengurangi premi risiko pada harga minyak mentah. Tiga kapal tanker super besar terlihat mencoba melintasi jalur tersebut, menandai peningkatan kecil aktivitas pelayaran setelah beberapa hari sebelumnya relatif sepi.

Iran mengklaim sebanyak 26 kapal melintas dalam 24 jam terakhir. Meskipun demikian, sebelumnya negara itu juga pernah melaporkan angka lalu lintas yang jauh lebih besar dibandingkan data pelacakan kapal.

Trump pada Rabu mengatakan "kita lihat saja nanti" terkait Iran, seraya menambahkan bahwa kesepakatan akan tercapai atau "kami akan melakukan beberapa hal yang agak tidak menyenangkan, tetapi semoga itu tidak terjadi." Ia berulang kali mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran jika Teheran tidak menyetujui syarat perdamaian yang diajukan Washington.

Iran saat ini tengah meninjau rancangan terbaru proposal Amerika Serikat sebagai respons atas proposal 14 poin dari Teheran dan belum memberikan jawaban resmi. Laporan tersebut dikutip berdasarkan data dari kantor berita semi-resmi Tasnim yang memperoleh informasi dari sumber dekat tim negosiasi negara itu.

Sebelumnya pada hari yang sama, Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan di luar kawasan Timur Tengah jika Amerika Serikat atau Israel kembali menyerangnya. Ketegangan geopolitik ini tetap menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar komoditas energi global.

Pada pencatatan pukul 06.36 waktu Singapura, komoditas WTI untuk pengiriman Juli naik 0,8 persen menjadi US$99,07 per barel. Di sisi lain, Brent untuk pengiriman Juli turun 5,6 persen dan ditutup di level US$105,02 per barel pada perdagangan Rabu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author