Harga Minyak Brent Tembus US$100 Per Barel Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Share

Harga minyak mentah global jenis Brent melonjak sekitar 7 persen hingga menembus level US$100,69 per barel pada Kamis (23/7) akibat eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi setelah kelompok Houthi menyerang kapal tanker di Laut Merah serta serangan balasan militer Amerika Serikat ke pangkalan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Gilan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa lonjakan harga minyak ini belum membahayakan postur APBN karena pemerintah telah menyiapkan simulasi anggaran dengan skenario harga minyak mencapai US$100 per barel atau lebih.

"Artinya sekarang, kalau balik lagi ke (harga di atas USD 100), ruangnya semakin terbatas aja, tapi nggak membahayakan APBN sendiri, kan udah karena ini bukan keadaan baru, kan," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya menambahkan bahwa pemerintah sedang menghitung dampak anggaran sesuai arahan Presiden Prabowo untuk memastikan program stimulus semester II tetap berjalan meski ruang fiskal menjadi lebih terbatas. "Cuman yang yang mau saya tambahin ke beberapa ke Kementerian/Lembaga maupun ke daerah, mungkin enggak seluas yang sebelumnya itu aja," ucap Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Terkait kebijakan domestik, Menkeu Purbaya menegaskan tidak ada pembahasan mengenai kenaikan harga BBM subsidi dan saat ini fokus pada pemanfaatan teknologi agar penyaluran subsidi lebih tepat sasaran. "Utamanya gimana, mungkin saya pengen tahu gimana teknologi yang mau dipakai untuk membatasi, bukan membatasi, supaya subsidinya tepat sasaran," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya menjelaskan bahwa saat ini kelompok masyarakat kelas menengah ke atas masih banyak yang mengonsumsi Pertalite maupun LPG 3 kg sehingga diperlukan sistem pengendalian volume yang lebih ketat. "Kan semua orang, yang kaya juga bisa ambil Pertalite atau gas (LPG 3 kg) misalnya. Dia punya teknologi, saya pengen lihat teknologinya bagaimana sih, penerapan seperti apa," ungkap Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan. Pemerintah memastikan akan tetap menjaga harga BBM subsidi di level saat ini sembari menunggu usulan teknis dari pihak Pertamina mengenai skema pembatasan berdasarkan kapasitas mesin kendaraan.

"Tidak. Yang kita pastikan subsidinya tepat sasaran, sehingga bisa terkendali volumenya. Nanti kalau itu, kita tunggu si Pertamina mau ngusulin apa, hal-hal yang lain saya akan lihat nanti," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Di sisi lain, ketegangan militer terus meningkat setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan gelombang serangan ke-13 ke wilayah Iran untuk mengurangi ancaman terhadap pelayaran komersial. "Pagi ini, markas besar pasukan angkatan naval IRGC di Zibakenar menjadi sasaran proyektil musuh Amerika, yang merusak beberapa peralatan di kompleks tersebut," kata Ali Bagheri, Wakil Gubernur Provinsi Gilan. Militer Iran membalas dengan meluncurkan drone kamikaze Arash ke pangkalan udara Amerika Serikat di Bahrain dan Yordania yang dilaporkan menyebabkan tiga tentara AS tewas.

"Pagi ini, tangki bahan bakar, gudang peralatan besar dan silo serta barak pasukan tentara teroris AS di Pangkalan Udara Isa di Bahrain menjadi sasaran drone kamikaze Arash," kata Militer Iran dalam pernyataan resmi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran akan meminta pertanggungjawaban negara mana pun yang membantu Amerika Serikat dalam melancarkan agresi terhadap wilayah mereka. "Setiap partisipasi, kerja sama, atau bantuan dalam melakukan agresi terhadap Iran akan menimbulkan tanggung jawab internasional bagi pihak-pihak terkait," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Araghchi menegaskan bahwa Iran memiliki hak penuh untuk melakukan pembelaan diri terhadap setiap fasilitas militer di Timur Tengah yang digunakan untuk menyerang kedaulatan republik Islam tersebut. "Iran berhak untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan dalam kerangka pertahanan diri," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Presiden Donald Trump melalui media sosial menyatakan bahwa Iran harus membayar seluruh kerusakan kapal dan kargo yang terjadi di Laut Merah akibat serangan kelompok Houthi. "Kerusakan ini mungkin sangat besar, namun demikian, ini adalah hal yang adil dan wajar untuk dilakukan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Trump juga memberikan sinyal bahwa dirinya belum siap untuk merundingkan gencatan senjata baru dengan Iran karena menilai para pemimpin di Teheran masih memiliki niat buruk.

"Mereka ingin melakukan sesuatu, tapi menurut saya mereka belum siap. Mereka membutuhkan lebih banyak hal yang sama," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Kondisi pasar modal dalam negeri turut terdampak di mana IHSG melemah 1,88 persen pada Jumat (24/7) seiring dengan pelemahan bursa Asia lainnya seperti Nikkei dan Hang Seng akibat sentimen geopolitik ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author