Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Ketegangan Amerika Serikat dan Iran
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada Rabu, 8 Juli 2026 setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan berakhirnya gencatan senjata dengan Iran dan mengancam akan kembali melakukan pengeboman serta blokade laut. Lonjakan ini mencatatkan harga West Texas Intermediate (WTI) naik 7 persen ke angka 75,38 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent melonjak 7,4 persen menjadi 79,65 dolar AS per barel berdasarkan data pasar komoditas. Eskalasi ini dipicu oleh serangan udara militer AS semalam terhadap lebih dari 80 target di Iran sebagai respons atas dugaan serangan terhadap tiga kapal tanker komersial di Selat Hormuz pada hari Selasa.
"To me, I think it's over," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat saat berbicara kepada wartawan di sela KTT NATO di Ankara, Turki.
Presiden Trump menambahkan bahwa delegasi Washington sebenarnya ingin menegosiasikan kesepakatan damai, namun dirinya menganggap upaya berurusan dengan pihak Iran saat ini hanya membuang-buang waktu. "We'll probably hit them hard again tonight," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Selain ancaman serangan udara lanjutan, Trump juga menegaskan kesiapan pemerintahannya untuk menerapkan kembali sanksi maritim yang ketat di kawasan Timur Tengah tersebut. "We may put it back, the blockade, and it'll only be a blockade for Iran," tutur Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Langkah pengetatan sanksi ekonomi juga dipertegas oleh Departemen Keuangan AS yang telah menarik kembali keringanan penjualan minyak bagi Iran sejak hari Selasa. Berdasarkan laporan komando pusat AS (U.S. Central Command), serangan udara sebelumnya telah menghancurkan jaringan pertahanan udara, sistem komando, situs radar, serta kemampuan rudal anti-kapal milik Iran. Di sisi lain, situasi keamanan jalur pelayaran internasional di sekitar Selat Hormuz kini dinaikkan statusnya menjadi parah oleh Joint Maritime Information Center karena risiko tindakan bermusuhan lanjutan yang dinilai sangat tinggi.