Harga Minyak Dunia Anjlok Setelah Pakistan Mediasi Damai AS dan Iran
Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah Pakistan berhasil memediasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Penurunan ini terjadi pasca Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz akan dibuka kembali.
Seperti dilansir dari Detikcom, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global merosot sebesar 4,3% menjadi US$83,55 per barel pada Senin (15/06). Sementara itu, minyak mentah yang diperdagangkan di pasar AS juga melemah hingga 4,9% ke posisi US$80,74.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menjelaskan bahwa prosesi penandatanganan kesepakatan resmi tersebut dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni mendatang.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, ikut membenarkan selesainya pembahasan kesepakatan dengan pihak AS melalui sambungan telepon di stasiun televisi pemerintah Iran.
Merespons perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapan singkat melalui akun media sosial pribadinya.
"biarkan minyak mengalir!"
Ketegangan di Selat Hormuz bermula saat jalur pelayaran vital tersebut ditutup tidak lama setelah AS dan Israel melancarkan operasi serangan udara ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu.
Pemerintah Iran kemudian membalas dengan ancaman penyerangan terhadap setiap kapal dagang yang melintasi jalur laut yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia tersebut.
Akibat konflik tersebut, pasar energi global terus mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa bulan terakhir dengan fluktuasi harga minyak yang tajam mengikuti dinamika perang AS-Israel dan Iran.
Sebelum konflik bersenjata meletus, minyak mentah jenis Brent berada di kisaran US$70 per barel, namun harganya sempat meroket hingga menyentuh US$120 per barel selama masa peperangan.
Vandana Hari dari lembaga analisis pasar energi Vanda Insights menilai bahwa minimnya rincian detail terkait poin-poin kesepakatan berpotensi memicu kekhawatiran dan ketidakteraturan di pasar energi.
Kondisi tersebut diperkirakan bakal membuat pasar minyak dunia diselimuti volatilitas dan ketidakpastian dalam kurun waktu sepekan menjelang seremoni penandatanganan di Swiss.
Sejumlah pengamat industri energi juga memberikan peringatan bahwa distribusi minyak melalui Selat Hormuz tidak bisa langsung kembali normal seperti masa sebelum perang.
Analis dari perusahaan konsultan Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menyebutkan bahwa pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz menjadi prioritas utama yang membutuhkan waktu beberapa minggu hingga enam bulan.
Faktor lain yang menghambat adalah terjadinya penumpukan armada kapal tanker yang mengantre untuk melewati jalur tersebut, selain pemulihan kapasitas produksi minyak dan normalisasi arus lalu lintas kapal.
Terkait kondisi di lapangan, Donald Trump tetap menyatakan harapannya agar komoditas minyak bisa segera didistribusikan kembali setelah dokumen kesepakatan resmi ditandatangani pada Jumat depan.
Mantan laksamana muda Angkatan Laut AS sekaligus peneliti senior di Foundation for the Defence of Democracies, Laksamana Mark Montgomery, menyatakan bahwa proses normalisasi jalur logistik ini tidak dapat diselesaikan secara instan.
"Itu akan memakan waktu sebulan atau 45 hari untuk benar-benar mencapai pemompaan normal, dan kapal bergerak masuk dan keluar dengan lancar," katanya.
Di sisi lain, pasar saham di kawasan Asia langsung bergerak menguat pada Senin (15/06) seiring respons positif para pelaku pasar terhadap tercapainya kerangka kesepakatan damai ini.
Indeks saham Nikkei 225 di Jepang mencatatkan kenaikan sebesar 4,7%, sedangkan indeks Kospi di Korea Selatan melonjak hingga lebih dari 5,2%.
Wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara menjadi area yang paling terdampak oleh gejolak harga energi global karena tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan minyak dan LNG dari kawasan Timur Tengah.