Harga Minyak Dunia Anjlok Akibat Peningkatan Arus Selat Hormuz
Harga minyak dunia mengalami penurunan kuartalan terbesar sejak era pandemi setelah arus lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz meningkat pada Selasa, 30 Juni 2026, menyusul kemajuan kesepakatan damai. Dilansir dari Bloombergtechnoz, kontrak Brent untuk bulan September diperdagangkan mendekati US$74 per barel setelah anjlok hampir sepertiga pada kuartal ini, sementara West Texas Intermediate bertengger di sekitar US$70 per barel. Kemerosotan nilai minyak mentah ini dipicu oleh pembukaan kembali jalur Teluk Persia yang membuat pasokan terperangkap mulai mengalir keluar, ditambah adanya pengecualian sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.
Para analis dari Morgan Stanley memberikan catatan mengenai situasi pasar fisik saat ini yang dipengaruhi oleh tingginya volume ekspor dari wilayah Amerika Serikat serta rendahnya tingkat impor dari pihak China.
"Selat Hormuz dibuka kembali lebih cepat dari perkiraan, namun ‘dua faktor penentu’ berupa ekspor AS yang tinggi dan impor China yang rendah tetap berlaku," tulis para analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats dan Charlotte Firkins. Pihak perbankan Wall Street tersebut kemudian memotong proyeksi harga patokan fisik sebesar seperenam untuk kuartal mendatang karena potensi kelebihan pasokan jika arus pulih hingga 65 persen.
"Hasilnya adalah kelebihan pasokan fisik," tulis para analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats dan Charlotte Firkins. Kondisi pasar yang bergerak cepat ini juga memicu reaksi spekulasi dari para pelaku investasi dalam memanfaatkan penurunan harga komoditas energi tersebut.
"Pasar cenderung bergerak dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek," kata Eric Van Nostrand, Kepala Investasi Lazard. Situasi optimisme yang berkembang terkait pemulihan jalur pelayaran utama dunia tersebut kini memicu pergeseran aktivitas transaksi di bursa berjangka global. "Suasana optimistis seputar lalu lintas di Selat Hormuz yang kini terlihat jauh lebih baik daripada pekan lalu—jika dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya—telah membuat banyak orang berspekulasi membeli minyak dengan harga lebih murah," kata Eric Van Nostrand, Kepala Investasi Lazard.