Harga Logam Dasar LME Merosot Akibat Konflik Timur Tengah

Share

Harga logam dasar di pasar global mengalami penurunan signifikan, mulai dari aluminium hingga seng. Penurunan nilai material industri ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta proyeksi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) yang menekan prospek permintaan komoditas.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, sentimen pasar kian memburuk setelah bursa saham berguguran menyusul aksi militer pasukan AS yang menyerang Iran. Konflik ini memanas setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran menembak jatuh helikopter milik AS, yang kemudian diikuti oleh sumpah Trump untuk melancarkan serangan balasan lanjutan.

Kondisi perang yang terus berlanjut telah mendorong kenaikan inflasi secara global. Situasi tersebut memperbesar peluang penerapan suku bunga yang lebih tinggi, yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus mengikis permintaan terhadap komoditas logam.

Kendati demikian, harga logam sempat menunjukkan pemulihan tipis. Pergerakan positif ini terjadi setelah rilis data ekonomi AS untuk bulan Mei yang menunjukkan inflasi konsumen inti naik lebih rendah dari proyeksi, meskipun laju inflasi tahunan tetap berada di tingkat tercepat dalam kurun lebih dari tiga tahun.

Dalam pergerakan pasar terbaru, harga tembaga mencatatkan penurunan sebesar 0,7%. Sementara itu, komoditas lainnya seperti aluminium, nikel, dan seng secara kompak mengalami koreksi yang lebih dalam hingga melebihi 1%.

Kepala Riset Chaos Ternary Futures Co, Li Xuezhi, menjelaskan bahwa fokus pasar logam saat ini tertuju pada pengetatan likuiditas global. Kebijakan ini merupakan imbas dari rilis data ketenagakerjaan AS yang kuat pada pekan sebelumnya, sehingga memberikan dampak negatif bagi aset berisiko mulai dari emas, perak, hingga material industri.

Walau dilanda tekanan jangka pendek, proyeksi permintaan logam untuk jangka panjang dinilai masih tetap kuat. Optimisme ini ditopang oleh melonjaknya alokasi pengeluaran global di sektor teknologi dan pembangunan infrastruktur digital.

Salah satu pendorong utama datang dari China yang tengah bersiap mengucurkan dana sekitar 2 triliun yuan atau setara US$295 miliar selama lima tahun ke depan. Dana fantastis tersebut dialokasikan secara khusus untuk membangun pusat data berskala besar.

Rencana pembangunan jaringan komputasi nasional ini sebenarnya telah digariskan dalam rencana lima tahun China pada awal 2026. Menurut Li Xuezhi, investasi besar tersebut sudah sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar sehingga tidak memberikan pengaruh instan terhadap harga komoditas dalam jangka pendek.

Pada penutupan perdagangan di London Metal Exchange (LME), harga aluminium merosot 2,3% menjadi US$3.466 per ton, yang menandai level terendahnya sejak akhir April. Pada saat yang sama, harga tembaga melemah ke posisi US$13.515,50 per ton, sementara komoditas nikel juga jatuh sebesar 2,1%.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author