Harga Emas Dunia Menguat Tipis di Tengah Gejolak Ekonomi Global

Share

Harga emas spot dunia melonjak 0,7 persen ke level US$ 4.461,09 per ons troi pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi seiring dengan melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat dan penurunan harga minyak mentah global.

Pergerakan komoditas ini terjadi di tengah meningkatnya harapan pelaku pasar atas meredanya konflik di Timur Tengah setelah pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer menilai fluktuasi nilai aset aman ini masih sangat terikat dengan pergerakan mata uang AS dan sektor energi global.

"Kenaikan harga emas masih sangat bergantung pada pergerakan minyak dan dolar AS. Emas cenderung bergerak lebih tinggi ketika keduanya melemah, sehingga keberlanjutan penguatannya sangat bergantung pada sentimen positif terkait hubungan AS dan Iran," ujar Tim Waterer.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga tercatat menguat 0,5 persen ke posisi US$ 4.487,90 per ons troi menurut data yang dihimpun Reuters.

Senior Analyst StoneX, Matt Simpson memperkirakan bahwa pergerakan logam mulia ini masih akan diwarnai volatilitas yang tinggi hingga penutupan tahun.

"Saya tidak melihat tren bullish emas telah berakhir, tetapi pasar memang memerlukan fase koreksi. Karena itu, saya memperkecil perdagangan akan berlangsung cukup fluktuatif hingga akhir tahun, meskipun tetap memiliki kecenderungan naik dengan target sekitar US$ 5.000 per ons troi," kata Matt Simpson.

Di sisi lain, koreksi yang sempat terjadi pada bulan sebelumnya dilaporkan ikut memicu minat beli baru dari para investor jangka panjang.

Kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen mencatat bahwa performa emas masih membukukan pertumbuhan signifikan secara tahunan meski sempat merosot tiga bulan berturut-turut.

“Meskipun terjadi penurunan baru-baru ini, harga emas tetap naik 5% sejauh ini pada 2026, 36% selama setahun terakhir dan 91% selama dua tahun terakhir,” kata Ole Hansen.

Hansen menambahkan bahwa pergerakan harga komoditas energi saat ini turut memberikan tekanan tersendiri bagi pergerakan logam mulia di pasar finansial.

“Pasar telah menguji level ini dua kali selama koreksi baru-baru ini dan setiap kali menarik minat beli yang baru. Meskipun ini tidak menghilangkan risiko pelemahan jangka pendek lebih lanjut, hal ini menunjukkan bahwa investor jangka panjang tetap aktif di bawah pasar," jelas Ole Hansen.

Ketidakpastian ekonomi jangka panjang juga memicu proyeksi bullish dari tokoh industri lainnya, seperti pendiri Franco-Nevada Pierre Lassonde yang memprediksi harga emas berpotensi menembus US$ 17.250 per troy ounce dalam tiga tahun ke depan.

“Untuk saat ini, many investor tampaknya puas menunggu kejelasan yang lebih besar mengenai konflik di Timur Tengah sebelum meningkatkan eksposur (terhadap emas). Namun, begitu perhatian beralih dari fluktuasi harian harga energi dan berita geopolitik, kami percaya pasar akan sekali lagi fokus pada pendorong struktural yang membantu menopang harga emas dalam beberapa tahun terakhir," imbuh Ole Hansen.

Hansen menjelaskan lebih lanjut mengenai karakteristik aset lindung nilai ini ketika berhadapan dengan situasi guncangan ekonomi yang disebabkan oleh sektor pasokan.

“Kemunduran baru-baru ini sekali lagi menyoroti perbedaan penting yang sering diabaikan oleh investor,” kata Ole Hansen.

Situasi pasar saat ini dinilai memiliki keunikan karena inflasi tinggi justru berjalan beriringan dengan penguatan dolar AS akibat krisis energi.

“Emas secara luas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, tetapi sifat guncangan inflasi itu penting," sambung Ole Hansen.

Kondisi kenaikan imbal hasil obligasi global saat ini menjadi penahan utama daya tarik emas bagi sebagian pelaku pasar komoditas.

"Tetapi situasi saat ini berbeda. Guncangan energi yang didorong oleh pasokan mendorong inflasi lebih tinggi sekaligus mendukung imbal hasil dan dolar. Kombinasi ini dapat untuk sementara melemahkan daya tarik emas meskipun harga konsumen meningkat," jelas Ole Hansen.

Selain emas, penguatan juga diikuti oleh logam mulia lainnya seperti perak spot yang naik 0,6 persen ke US$ 73,13, platinum menguat 0,7 persen ke US$ 1.872,11, serta paladium yang naik 0,9 persen ke level US$ 1.313,51 per ons troi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author