Harga Emas Dunia Kokoh Lampaui US$4.000 per Troy Ons 26 Juni 2026
Harga emas dunia bergerak kokoh di jalur pendakian hingga melampaui level US$4.000 per troy ons pada Jumat waktu Amerika Serikat. Tren positif ini terjadi setelah rilis data inflasi terbaru negara tersebut meredam ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan.
Seperti dilaporkan oleh Bloombergtechnoz, pergerakan komoditas ini sekaligus menutup pekan yang penuh gejolak. Sebelumnya, logam mulia sempat merosot hingga menyentuh level terendah sejak November silam.
Pada pasar spot, harga emas mencatatkan kenaikan hingga 1,7% yang memperpanjang reli dari sesi perdagangan sebelumnya. Kendati demikian, aset ini tetap berada dalam jalur penurunan mingguan keempat berturut-turut, menjadi fase pelemahan terpanjang sejak Agustus 2023.
Laju emas belakangan ini tertahan oleh penguatan mata uang dolar AS. Selain itu, pasar sempat mengantisipasi sikap yang lebih hawkish dari Federal Reserve untuk menekan laju inflasi.
Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi secara umum bakal mengurangi daya tarik emas batangan. Hal ini karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil atau bunga bagi para pemegang modal.
Namun, emas berhasil bangkit dari tekanan pada perdagangan Jumat. Pemulihan terjadi di tengah koreksi saham-saham sektor teknologi akibat kecemasan pasar terhadap perdagangan kecerdasan buatan atau AI.
Fluktuasi tajam di bursa saham sepanjang pekan mendorong sejumlah investor melepas kepemilikan emas mereka. Langkah tersebut diambil guna menutup kerugian yang terjadi pada portofolio saham.
Sisi positifnya, emas memperoleh sentimen pendukung dari data inflasi Amerika Serikat yang dilaporkan sesuai dengan proyeksi para analis. Imbal hasil obligasi pemerintah AS terpantau turun usai indeks pengeluaran konsumsi pribadi naik 0,4% pada Mei.
Di sisi lain, tingkat keyakinan konsumen AS mengalami perbaikan sepanjang Juni. Penurunan harga bahan bakar minyak menjadi faktor yang memberi ruang napas bagi warga setempat di tengah tekanan inflasi.
Pelemahan harga emas hingga menembus batas bawah US$4.000 pada minggu ini menandai pembalikan arah dari tren bullish jangka panjang. Padahal, komoditas ini sebelumnya terus mencetak rekor tertinggi baru secara beruntun.
Periode tahun 2025 menjadi momen emas dengan performa terbaik dalam empat dekade terakhir. Kenaikan tersebut ditopang oleh fenomena debasement trade saat investor memburu emas dan Bitcoin demi mengantisipasi lonjakan utang fiskal negara maju.
Kini, aktivitas perdagangan alternatif tersebut mulai mendingin. Kondisi ini memicu sejumlah bank besar di Tiongkok untuk menyetop layanan perdagangan ritel mereka sejak pekan ini.
"Ketika perdagangan pertumbuhan yang ramai mengalami tekanan, investor seringkali menjual apa pun yang bisa mereka jual, bukan hanya apa yang mereka inginkan," kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets.
"Emas sudah menjadi perdagangan yang sangat menguntungkan selama sebagian besar tahun lalu, sehingga dapat menjadi sumber likuiditas ketika portofolio perlu mengurangi risiko," ujarnya.
Sementara itu, indeks dolar AS berpotensi membukukan penguatan mingguan kedua secara berturut-turut. Mata uang Negeri Paman Sam naik sekitar tiga perempat poin persentase sejak pertemuan bank sentral pekan lalu.
Para pembuat kebijakan telah memberi sinyal dukungan pada peningkatan biaya pinjaman. Terlebih, Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, berulang kali menegaskan bahwa stabilitas harga menjadi prioritas utama.
Penguatan nilai tukar dolar AS secara langsung membuat komoditas yang menggunakan denominasi mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi para pembeli luar negeri.
Pasca rilis laporan inflasi, pelaku pasar obligasi mulai menghitung ulang proyeksi kenaikan suku bunga tahun ini dengan angka yang lebih rendah. Peluang kenaikan suku bunga untuk bulan depan kini menyusut menjadi kisaran satu banding tiga.
Walau begitu, arah kebijakan moneter yang ketat tetap menjadi beban bagi pergerakan logam mulia. Hal ini membuatnya kalah bersaing dari aset yang memberikan imbal hasil pasti seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.
"Emas pada dasarnya telah memperhitungkan risiko pengetatan lebih lanjut oleh The Fed, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan rezim imbal hasil riil yang ‘lebih tinggi dalam jangka panjang’," kata David Chao, ahli strategi pasar di Invesco.
Pada penutupan perdagangan pukul 16.58 di New York, harga emas spot bertengger di level US$4.089,80 per troy ons setelah menguat 1,6%. Pergerakan positif ini juga diikuti oleh perak yang naik 2,2% ke posisi US$59,15 per ons, sementara platinum dan paladium turut merangkak naik.