Harga Emas Antam Stabil di Level Rp2,614 Juta per Gram di Awal Pekan
Harga logam mulia batangan 24 karat produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam terpantau stabil di level Rp2.614.000 per gram pada perdagangan Senin (20/7/2026). Nilai ini bertahan dari posisi penutupan akhir pekan lalu setelah sempat mengalami gejolak harga yang cukup signifikan sepanjang pekan ketiga Juli.
Kestabilan harga ini memberikan napas lega bagi para pelaku pasar setelah komoditas emas domestik mencatatkan penurunan total sebesar Rp21.000 per gram dalam sepekan terakhir. Pergerakan harga dasar yang belum termasuk komponen pajak ini mencerminkan dinamika pasar komoditas global yang sedang menguji level psikologis baru.
Menurut data historis pasar domestik yang dihimpun pada pertengahan Juli 2026, harga emas Antam bergerak sangat volatil. Fluktuasi tajam terjadi sejak awal pekan sebelum akhirnya ditutup menguat tipis menjelang hari libur.
Kronologi Fluktuasi Harga Mingguan
Pada Senin (13/7/2026), emas Antam dibuka pada level Rp2.635.000 per gram. Namun, pada Selasa (14/7/2026), harga langsung merosot Rp20.000 menjadi Rp2.615.000 per gram, sebelum akhirnya sempat berbalik naik lagi Rp20.000 ke posisi Rp2.635.000 per gram pada Rabu (15/7/2026).
Tren penurunan kembali berlanjut pada Kamis (16/7/2026) dengan pelemahan tipis Rp3.000, yang kemudian disusul kemerosotan tajam sebesar Rp27.000 pada Jumat (17/7/2026) hingga menyentuh level terendah sepekan di Rp2.606.000 per gram. Harga baru menunjukkan tanda pemulihan pada Sabtu (18/7/2026) dengan kenaikan Rp8.000 ke level Rp2.614.000 per gram dan bertahan hingga hari ini.
Penyusutan Signifikan Nilai Pembelian Kembali
Di sisi lain, harga buyback atau pembelian kembali oleh produsen domestik mengalami penyusutan yang jauh lebih dalam dibandingkan harga jualnya. Sepanjang pekan lalu, harga buyback menyusut hingga Rp46.000 per gram, bergerak dari Rp2.395.000 menjadi Rp2.349.000 per gram.
Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.
Bagi masyarakat yang berencana melakukan transaksi pembelian, perlu diingat kembali mengenai aturan perpajakan yang berlaku. Berdasarkan regulasi resmi, pembelian logam mulia batangan langsung dari produsen domestik dikenakan PPh 22 sebesar 0,45% bagi pemilik NPWP, sedangkan bagi non-NPWP dikenakan tarif lebih tinggi yaitu 0,9%.
Daftar Harga Emas Domestik Hari Ini
Selain memantau pergerakan langsung dari produsen utama, harga komoditas ini juga bervariasi di berbagai jaringan ritel dan pergadaian negara tergantung pada merek serta ukuran gramasi yang ditawarkan ke konsumen.
Berikut adalah tabel rincian harga emas batangan 24 karat ukuran 1 gram di pasar domestik per 19-20 Juli 2026:
| Merek Produk Emas Batangan | Harga Jual Ritel (Rp) | Harga Buyback (Rp) |
|---|---|---|
| Produsen Domestik Utama (Antam di Pergadaian) | 2.719.000 | 2.418.000 |
| Anak Perusahaan Pergadaian Negara | 2.587.000 | 2.425.000 |
| Merek Swasta Lainnya (UBS) | 2.599.000 | 2.418.000 |
| Merek Edisi Tertentu / Retro | 2.630.000 | – |
Perlu dicatat pula oleh para investor bahwa terdapat selisih harga per gram sekitar Rp159.400 antara ukuran kecil (0,5 gram) dan ukuran besar (1.000 gram) pada logam mulia batangan. Selisih margin ini membuat pembelian dengan ukuran besar dinilai jauh lebih ekonomis untuk investasi jangka panjang.
Pengaruh Sentimen Global dan Suku Bunga
Stagnansi harga di pasar domestik hari ini tidak lepas dari penutupan perdagangan komoditas di pasar spot global pada akhir pekan lalu. Harga emas dunia ditutup melemah sekitar 2,5% sepanjang pekan dan bertengger di level US$4.017,30 per troy ounce.
Dinamika ini dipengaruhi oleh pergeseran ekspektasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Pasar saat ini memprediksi adanya peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada bulan September sebesar 56%, sebuah langkah yang menahan laju penguatan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Meskipun demikian, penurunan harga komoditas ini tertahan oleh faktor eksternal lain di sektor energi. Harga minyak dunia dilaporkan kembali menembus angka US$80 per barel akibat ketegangan geopolitik yang terus membara di kawasan Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz, sehingga memicu sebagian pelaku pasar untuk tetap mempertahankan sebagian aset aman mereka.