Harga Aluminium Global Melonjak Imbas Kekhawatiran Pemangkasan Produksi China

Share

Harga aluminium dunia melonjak mendekati level tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir pada Selasa, 26 Mei 2026, akibat kekhawatiran pemangkasan produksi di China yang memperparah gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Lonjakan harga komoditas logam industri tersebut mencapai 1 persen di London Metal Exchange (LME) setelah munculnya laporan mengenai potensi pengurangan operasional pabrik peleburan di China, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Lembaga riset Mysteel Global melaporkan bahwa pemerintah China tengah melakukan inspeksi nasional terkait emisi industri utama serta penggunaan energi, sehingga pabrik peleburan di negara produsen utama tersebut berpotensi diminta mengurangi kapasitas produksinya.

Sebelumnya, berbagai pabrik peleburan aluminium di China memacu produksi hingga melampaui kapasitas demi memanfaatkan kelangkaan pasokan global yang dipicu oleh konflik Timur Tengah sejak akhir Februari.

Blokade yang terjadi di Selat Hormuz secara efektif mengganggu jalur distribusi komoditas dari kawasan Timur Tengah, sehingga mengerek harga aluminium LME ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Langkah pengendalian kini mulai diambil oleh otoritas China menyusul penumpukan persediaan akibat produksi yang berlebih, di mana salah satu pabrik peleburan di Baise, Provinsi Guangxi, dilaporkan telah memangkas produksi aluminium cair.

Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China dalam pernyataan tertulisnya pada 13 Mei menyatakan bahwa kebijakan pengendalian energi ini juga akan menyasar industri baja serta sektor pengolahan minyak bumi.

Berdasarkan data resmi, China selaku produsen terbesar di dunia mencatatkan rekor produksi harian aluminium mencapai 129.000 ton pada bulan lalu.

Pada pukul 10.02 waktu London, harga aluminium di LME tercatat naik 0,34 persen ke posisi US$3.650 per ton, mendekati rekor tertinggi yang pernah terjadi pada Maret 2022.

Di bursa Shanghai, harga logam ini sempat menguat hingga 1 persen ke level 24.710 yuan per ton sebelum akhirnya kembali melemah.

Sementara itu, harga tembaga global dilaporkan bergerak fluktuatif di kisaran US$13.670 per ton karena pelaku pasar masih mencermati kelanjutan prospek kesepakatan damai di Timur Tengah.

Harga logam merah tersebut sempat mendekati rekor tertinggi pada bulan ini, yang dipicu oleh tingginya spekulasi pasar atas lonjakan konsumsi listrik untuk sektor kecerdasan buatan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author