Gubernur Fed Chicago Khawatirkan Kenaikan Inflasi AS
Gubernur Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menyatakan kekhawatirannya terhadap lonjakan inflasi Amerika Serikat yang bergerak menjauhi target bank sentral pada Senin (23/6/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, ia juga mempertanyakan apakah faktor pendorong kenaikan harga tersebut benar-benar hanya bersifat sementara. “Kita telah menghadapi masalah inflasi yang jauh di atas target dan arahnya justru bergerak ke arah yang salah,” kata Austan Goolsbee, Gubernur Federal Reserve Chicago. Kekhawatiran ini mencuat setelah para pembuat kebijakan mempertahankan suku bunga acuan pekan lalu, meski hampir separuh dari mereka memproyeksikan minimal satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini. Tekanan harga kian meningkat dalam beberapa bulan terakhir, sehingga memicu keraguan di kalangan pejabat bank sentral bahwa level suku bunga saat ini mampu meredakan inflasi yang telah meleset dari target 2 persen selama lebih dari lima tahun.
Laju inflasi pada Mei 2026 tercatat meningkat ke tingkat tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Kondisi tersebut dipicu oleh ketegangan perang di Iran yang mendongkrak biaya energi dan mengikis pertumbuhan pendapatan riil masyarakat Amerika Serikat.
Goolsbee menekankan pentingnya evaluasi mendalam untuk menentukan apakah guncangan eksternal seperti tarif atau kenaikan harga energi akibat konflik merupakan penyebab tunggal inflasi. Ia menilai kenaikan harga di sektor jasa yang persisten di luar guncangan tersebut sebagai kondisi yang mengkhawatirkan. Di sisi lain, pertemuan Federal Open Market Committee pekan lalu menjadi momentum pertama bagi Kevin Warsh yang baru dilantik sebagai ketua pada Mei 2026. Warsh menyatakan rencana reformasi institusi dengan membentuk lima gugus tugas kebijakan moneter yang berfokus pada komunikasi serta neraca bank sentral.
Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari Goolsbee yang sepakat agar bank sentral membatasi pemberian panduan masa depan terkait langkah suku bunga. Penegasan ini didasari oleh potensi rusaknya kredibilitas bank sentral jika prediksi arah perekonomian terbukti keliru.