Pep Guardiola Prediksi Kunci Kemenangan Spanyol Lawan Argentina

Share

Mantan pelatih Manchester City, Pep Guardiola, membeberkan analisis taktis menjelang laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina dalam wawancara eksklusif bersama platform OKX yang dilansir media Spanyol pada Jumat, 17 Juli 2026.

Pria berusia 56 tahun yang saat ini sedang beristirahat dari dunia kepelatihan itu menilai kolektivitas, penguasaan bola, tekanan tinggi, dan sirkulasi cepat menjadi fondasi utama bagi skuad asuhan Luis de la Fuente.

Guardiola menggarisbawahi peran krusial lini tengah serta performa individu pemain muda untuk bisa meredam kekuatan Argentina yang dipimpin oleh kapten mereka, Leo Messi.

"Si jika Rodri membuktikan levelnya di lini tengah bersama Pedri dan Lamine Yamal berada dalam momen terbaiknya, Spanyol dapat membuat perbedaan," ujar Pep Guardiola, mantan pelatih Barcelona.

Ia menambahkan bahwa kondisi fisik Lamine Yamal sempat sedikit tertinggal akibat cedera terbarunya, namun pemain berusia 19 sins itu memiliki kapasitas luar biasa untuk mengelola tekanan besar dalam sebuah pertandingan.

"Lamine Yamal datang agak terlambat dalam hal kondisi fisiknya karena cedera terbarunya. Namun, mengingat usianya, ia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengelola tekanan yand dapat memutuskan pertandingan sendiri," kata Pep Guardiola, eks manajer Manchester City.

Meskipun memberikan analisis mendalam untuk Spanyol, pria asal Santpedor ini menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan dukungan khusus kepada salah satu finalis, melainkan hanya menjagokan tim yang dihuni para pemain favoritnya.

"Di Piala Dunia saya akan memilih para pemain yang saya sukai; saya tidak mendukung tim nasional tertentu, melainkan tim-tim dengan pesepak bola yang saya hargai dan pernah bermain dengan saya, dan saya akan dengan senang hati menyemangati mereka," jelas Pep Guardiola kepada OKX.

Guardiola yang mencatat 47 penampilan bersama timnas Spanyol semasa menjadi pemain juga merasa gembira jika negara-negara lain seperti Prancis atau Portugal yang keluar sebagai juara karena kedekatan emosionalnya dengan para pemain di sana.

"Saya akan memenangkan Piala Dunia. Karena saya memiliki banyak pemain yang saya kagumi. Saya siempre mendukung tim yang memiliki pemain yang saya sukai.

Jika Argentina menang, ada pemain yang pernah bersama saya dan saya akan bahagia untuk ellos. Hal yang sama dengan Prancis. Portugal memiliki pemain yang koneksinya saya sukai," tutur Pep Guardiola dalam interviu tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, pria yang memulai karier melatihnya pada usia 37 tahun di Barcelona itu merefleksikan keputusannya untuk rehat demi memulihkan kondisi fisik, merawat punggungnya yang menderita beberapa tahun terakhir, serta meluangkan waktu bersama keluarga.

"Saya mulai pada usia 37 tahun di Barcelona y sekarang saya 56. Saya perlu melakukan hal-hal baru. Saat ini saya merasa sangat bahagia," ucap Pep Guardiola.

Kendati sedang menikmati masa istirahatnya dan dirumorkan masuk radar tim nasional Italia serta Inggris, juru taktik asal Katalunya ini membuka peluang untuk kembali ke Etihad Stadium suatu hari nanti.

"Suatu hari, tentu saja, saya akan kembali ke Etihad Stadium. Tapi sekarang saya ingin berada di balik layar. Jika mereka membutuhkan saya, saya akan berada di sana," cetus Pep Guardiola.

Selain membahas masa depannya, Guardiola mengenang rivalitas sengitnya di Liga Inggris dengan mantan manajer Liverpool, Jürgen Klopp, yang dianggapnya sebagai pesaing terbesar yang paling menyulitkan taktiknya.

"Jürgen adalah rival terbesar dalam karier saya. Orang ini mampu mengubah sistem setiap 20 menit. Dia membuat saya gila," aku Pep Guardiola.

Guardiola juga mengungkapkan satu penyesalan dalam kariernya, yakni tidak pernah melatih bintang Brasil, Neymar, yang sempat dihadapinya saat ia menukangi Bayern München melawan Barcelona.

"Neymar adalah pemain yang sangat ingin saya latih. Saya menghadapi Barcelona-nya Messi dan dia bersama Bayern München… Mereka tidak terbendung," ungkap Pep Guardiola.

Menutup sesi wawancara, pelatih yang pernah memenangkan medali emas Olimpiade Barcelona 1992 bersama Spanyol itu menetapkan pandangannya mengenai status pemain terbaik sepanjang masa.

"Setiap orang memiliki opininya masing-masing, tetapi saya tidak memiliki keraguan bahwa Messi adalah yang terbaik dari semuanya," pungkas Pep Guardiola.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author