Kalahkan Ego, Greysia Polii dan Nitya Maheswari Raih Emas Asian Games
Mantan atlet bulu tangkis ganda putri Indonesia, Greysia Polii, membagikan kisah perjuangan kariernya bersama Nitya Krishinda Maheswari dalam merebut medali emas Asian Games 2014.
Dilansir dari HaiBunda, di balik kebersamaan mereka yang tampak kompak di lapangan, tersimpan konflik serta perbedaan karakter yang sempat membuat hubungan keduanya renggang.
Greysia mengungkapkan melalui akun TikTok pribadinya bahwa perbedaan karakter tersebut sempat membuat mereka sulit membangun kedekatan di luar lapangan pertandingan.
"Kalau dilihat orang, aku dan Nitya Krishinda Maheswari terlihat sangat akrab. Di lapangan kami saling melengkapi. Seperti pasangan yang sempurna. Tapi di balik itu, kami bertolak-belakang karena banyak perbedaan," tulis Greysia.
Pasangan ganda putri ini sempat dipisahkan pada periode 2009-2010 sebelum akhirnya dipasangkan kembali oleh pelatih pada tahun 2013.
Setelah mengalami kegagalan pada laga final SEA Games 2013, Greysia berinisiatif mengajak Nitya berbicara secara mendalam pada Januari 2014.
"Setelah kalah di final SEA Games 2013, di suatu malam pada Januari 2014, aku mencari momen untuk mengajak Nitya berbicara empat mata," ungkap Greysia.
Dalam pertemuan pribadi tersebut, Nitya mengungkapkan rasa tidak puasnya terhadap perlakuan tim pelatih yang dinilainya lebih memprioritaskan Greysia.
"'Aku sebenarnya kesal sama situasi selama ini, kak. Enggak adil! Di mataku, kak Ge terus yang diprioritaskan pelatih!', jawab Nitya dengan nada tinggi, matanya mulai berkaca-kaca," tulis Greysia.
Pertemuan emosional yang diwarnai tangisan bersama tersebut belum langsung membuahkan jalan keluar bagi masa depan kemitraan mereka.
"Lalu, kami berdua larut dalam tangisan sambil berpelukan. Malam itu berakhir tanpa solusi. Aku cuma ingin membangun kembali hubungan pertemanan dengan Nitya," tutur Greysia.
Dua bulan setelah pembicaraan empat mata tersebut, hubungan keduanya masih terasa dingin hingga akhirnya pelatih Eng Hian memediasi mereka.
"Dua bulan kemudian, hubungan kami masih suram. Lalu, kami dipertemukan dalam sesi terbuka bersama pelatih kami, Ko Didi alias Eng Hian. Untuk pertama kalinya, kami benar-benar jujur. 'Aku enggak suka kak Ge kalau terlalu confidence pas tanding,' ungkap Nitya. 'Ndut, next time kalau kamu ngerasa aku over confidence, kasih tahu aku, ya!' balasku. 'Aku juga enggak suka gaya jalan kak Ge.
Gimana, gitu. Ganggu aja.' tambahnya," tutur Greysia.
Dalam sesi tersebut, kedua pemain saling memberikan kritik konstruktif dan berkomitmen untuk saling menerima masukan demi prestasi.
"'Aku tidak suka sikap kamu yang cenderung tertutup', ucapku pada Nitya. Dia pun menerimanya," ujar Greysia.
Setelah saling terbuka, hubungan mereka membaik dan keduanya sepakat untuk mengesampingkan ego demi meraih mimpi di dunia badminton.
"Kami sadar bahwa waktu tidak bisa menunggu dan mimpi tidak bisa ditunda. Kami harus memilih, ego atau tujuan. Kami memilih bertahan.
Memperbaiki, bukan menghindari. Perlahan, hubungan kami pulih," ujar Greysia.
"Saat itu, aku sadar, kami bukan cuma partner, tapi support system satu sama lain. Partner bukan cuma soal menang, tapi tentang saling jaga di segala kondisi," ujarnya.
Ujian Cedera Menjelang Asian Games 2014
Ujian kembali datang menjelang perhelatan Asian Games 2014 ketika Nitya mengalami cedera, namun Greysia memilih untuk memberikan dukungan penuh tanpa paksaan.
"Aku tidak memaksa Nitya melanjutkan pertandingan, karena bagiku partner lebih berharga dari sekadar juara. ‘Ndut, kesempatan itu bisa kok datang berapa kali. Dengan kondisi kamu seperti ini, aku enggak mau memaksakan. Kan kita berpasangan, kalo enggak ada kamu, aku bisa apa?’," ungkap Greysia.
Nitya memutuskan untuk tetap bertanding setelah mendapatkan keyakinan dan kepercayaan penuh dari Greysia.
"Nitya memilih bertahan. ‘Kak Ge percaya enggak sama aku kalau kondisi kayak gini, aku bisa main?’. Aku mengangguk. ‘Percaya!’. Saat dia percaya bisa, aku pun ikut percaya. Semangatnya, jadi kekuatanku juga," sambungnya.
Sinergi dan formula mental yang mereka terapkan akhirnya membawa hasil maksimal di lapangan pertandingan.
"Kami mempunyai mantra, ‘Fokus satu poin’. Bukan memikirkan menang besar, tapi melakukan yang terbaik, satu langkah demi satu langkah," ungkap Greysia.
"Bagi kami, kemenangan ini bukan sekadar medali. Ini tentang menyembuhkan luka, melawan ego, dan memilih tetap bertahan. Di balik semua itu, ada proses panjang yang tidak terlihat," tuturnya.