Goldman Sachs Pangkas Proyeksi Harga Minyak Brent Jadi US$80
Proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal IV-2026 dipangkas oleh Goldman Sachs menjadi US$80 per barel dari perkiraan awal US$90 per barel pada Selasa (16/6/2026). Penurunan ini didorong oleh rencana Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai yang diprediksi mengakhiri perang.
Pemangkasan ini didasarkan pada asumsi bahwa aktivitas ekspor dari kawasan Teluk akan kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli 2026. Dilansir dari Bloomberg Technoz, estimasi ini maju satu bulan lebih cepat dari proyeksi sebelumnya yang diperkirakan baru terjadi pada akhir Agustus.
“Meskipun rincian lengkap dari perjanjian tersebut belum jelas, kami sekarang berasumsi bahwa ekspor dari Teluk Persia akan kembali normal ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli,” kata analis Goldman Sachs, Daan Struyven.
Lembaga keuangan tersebut juga memotong proyeksi rata-rata harga minyak Brent sepanjang tahun 2027 menjadi sekitar US$75 per barel dari estimasi sebelumnya sebesar US$80 per barel. Langkah ini diambil menyusul persiapan pertemuan AS dan Iran di Swiss pada akhir pekan untuk menandatangani perjanjian pembukaan penuh Selat Hormuz.
Pengumuman rencana kesepakatan tersebut langsung membuat harga minyak anjlok ke level terendah sejak awal Maret 2026. Minyak West Texas Intermediate tercatat diperdagangkan di atas US$81 per barel setelah turun hampir 5 persen pada Senin (15/6/2026), sedangkan Brent ditutup pada kisaran US$83 per barel.
Berdasarkan data Kpler, pemulihan ini dinilai krusial mengingat saat ini terdapat hampir 300 kapal muatan yang mengantre keluar dari Teluk Persia, serta sekitar 300 kapal kosong yang menunggu masuk. Blokade ganda oleh Iran dan AS di Selat Hormuz sebelumnya telah menguras pasokan energi Timur Tengah hingga membuat cadangan darurat minyak mentah AS merosot ke level terendah sejak 1983.
Langkah penurunan proyeksi ini juga sejalan dengan analisis dari Morgan Stanley yang memangkas estimasi harga Dated Brent kuartal III-2026 menjadi rata-rata US$90 per barel dari US$100, dan kuartal IV-2026 menjadi US$80 per barel.
“Masih banyak yang perlu dinegosiasikan dan risiko utama tetap ada, tetapi untuk saat ini, ini adalah langkah kunci menuju deeskalasi konflik dan ekspor minyak yang lebih tinggi melalui Selat Hormuz,” kata analis Morgan Stanley, Martijn Rats.
Penandatanganan perjanjian sementara antara Washington dan Teheran tersebut dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026).