Gelombang Panas Baru Mengancam Eropa Setelah Rekor Suhu Mereda
Suhu ekstrem kembali mengancam benua Eropa seiring terbentuknya tanda-tanda gelombang panas baru di atas Samudra Atlantik, tepat setelah rekor panas sebelumnya mulai mereda. Sistem tekanan tinggi diperkirakan segera bergerak mendekat dan meluas, membuang udara sejuk serta memicu lonjakan suhu yang tidak biasa di Spanyol, Prancis, dan Inggris, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Suhu tertinggi di Portugal diproyeksikan menyentuh 43 derajat Celsius, sementara wilayah selatan Spanyol dapat mencapai 41 derajat Celsius pada pekan ini.
Adapun suhu di Paris diperkirakan melambung hingga 30 derajat Celsius pada Jumat, sedangkan London bersiap menghadapi suhu 31 derajat Celsius pada Senin depan.
Pemanasan global yang terjadi saat ini terus memicu peningkatan frekuensi sekaligus intensitas gelombang panas di benua Eropa Barat. Fenomena cuaca ekstrem tersebut dilaporkan memberi tekanan besar pada sistem kesehatan masyarakat, jaringan transportasi, dan pemenuhan energi kelistrikan.
Kondisi ini sekaligus menyingkap kerentanan yang nyata pada sektor perumahan di kota-kota besar seperti London. Meskipun demikian, gelombang panas ketiga sejak pekan terakhir Mei ini diperkirakan tidak akan membawa suhu seekstrem badai panas bulan lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Alex Burkill yang merupakan meteorolog dari Kantor Meteorologi Inggris (UK Met Office). "Pada tahap ini, tampaknya cuaca tidak akan sepanas atau selembap yang kami alami pekan lalu," kata Burkill.
Risiko Kekeringan dan Krisis Energi
Sistem tekanan tinggi baru ini diproyeksikan bakal menaikkan rata-rata suhu udara berkisar antara 3 hingga 7 derajat Celsius pada pekan depan.
Sejumlah lembaga meteorologi nasional dan perusahaan prakiraan cuaca komersial memprediksi sistem ini akan berulang kali terbentuk di Eropa Barat serta Eropa Tengah sepanjang Juli. Kondisi kering dan panas yang datang bertubi-tubi berpotensi besar memicu lonjakan risiko kekeringan hebat dan bencana kebakaran hutan. Sektor pasar energi turut menghadapi tantangan berat akibat kebutuhan pendingin ruangan yang meningkat tajam di tengah masyarakat.
Situasi makin rumit karena produksi listrik tenaga angin menurun, sementara suhu air sungai yang menghangat berisiko memangkas output listrik dari pembangkit nuklir.
Commodity Weather Group kini menaikkan proyeksi kebutuhan listrik bulanan menjadi 352 cooling degree days (CDD) yang berpotensi memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, data analisis dari MetDesk memperlihatkan adanya ancaman pengurangan produksi listrik tenaga nuklir mulai 8 Juli seiring kenaikan suhu ekstrem hingga pertengahan bulan.