Gaya Hidup Buruk Picu Lonjakan Kasus Stroke Usia Muda
Penyakit stroke kini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia lanjut. Fenomena belakangan ini menunjukkan adanya peningkatan kasus stroke yang signifikan di kalangan generasi muda.
Dilansir dari Detik Health, ahli neurologi Dr Rena Sukhdeo Singh menjelaskan bahwa pilihan gaya hidup menjadi faktor utama yang mendongkrak risiko stroke pada usia produktif. Salah satu pemicu terbesar yang ia temukan sepanjang kariernya adalah pola makan yang buruk.
Singh bersama terapis cedera otak, Natalie Mackenzie, mengidentifikasi beberapa aspek krusial yang memicu stroke di kalangan anak muda.
Data dari CDC menunjukkan dua dari lima orang dewasa di Amerika Serikat mengalami obesitas, yang memicu kolesterol serta tekanan darah tinggi. Sementara di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.
"Jelas bahwa peningkatan berat badan berkontribusi pada kejadian stroke. Diabetes umumnya diketahui meningkatkan risiko stroke karena dampaknya pada pembuluh darah dan jantung, mirip dengan efek tekanan darah tinggi dan obesitas," kata Mackenzie.
Singh menambahkan bahwa banyak anak muda sekarang bekerja di bidang yang tidak membutuhkan banyak pergerakan fisik. Minimnya aktivitas ini diperparah oleh konsumsi makanan siap saji secara rutin.
Kombinasi tersebut memicu tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, obesitas, hingga sleep apnea. Menurut Singh, setiap kondisi tersebut secara independen berpotensi meningkatkan risiko stroke.
Spesialis radiologi Dr dr Jacub Pandelaki, SpRad turut menyoroti popularitas makanan siap saji yang tinggi gula, lemak, garam, serta zat kimia tambahan.
"Pola hidup orang kita kan sekarang beda, dulu makan mi instan saja jarang, sekarang kita semua sudah ada fast food, dan umumnya disajikan dengan cara digoreng, kalau rebus, sebetulnya lebih sehat," katanya.
Menurut dr Jacub, pergeseran pola hidup inilah yang membuka peluang besar terjadinya stroke pada usia muda.
2. Tekanan Stres Tinggi
Faktor kedua adalah tingginya tingkat stres pada usia muda. Singh memaparkan bahwa stres meningkatkan kadar kortisol dan memicu tekanan darah tinggi, yang berujung pada ateroklerosis pembuluh darah serta beban berat pada jantung.
"Tubuh kita tidak dirancang untuk seaktif dan 'sesibuk' ini, dan dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental sangat besar," kata Mackenzie.
Stres kronis membuat seseorang kekurangan waktu untuk menjalani rutinitas sehat. Akibatnya, mereka cenderung memilih makanan cepat saji yang tinggi garam dan melewatkan olahraga teratur.
Gejala Awal Stroke pada Usia Muda
Spesialis saraf dr Al Rasyid SpS (K) menyebutkan bahwa indikasi awal stroke pada usia muda sejatinya serupa dengan pasien lansia.
Beberapa tanda yang harus diwaspadai antara lain senyum yang tidak simetris, kesulitan menelan air, kelemahan mendadak pada separuh anggota badan, serta kesulitan bicara atau tidak nyambung saat berkomunikasi.
"Selain itu, gejala stroke yang bisa diketahui itu rasa kebas, baal, atau kesemutan pada separuh tubuh, pandangan salah satu mata menjadi rabun atau kabur, dan munculnya sakit kepala hebat secara tiba-tiba," ujar dr Rasyid.
Sakit kepala pada pasien stroke biasanya datang mendadak dan belum pernah dirasakan sebelumnya. Pasien juga kerap mengalami gangguan keseimbangan seperti tremor dan jalan menyempoyongan.
"Jika seseorang mengalami gejala-gejala tersebut, penting untuk bisa segera pergi ke rumah sakit terdekat. Hal ini dilakukan untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan secara cepat dan tepat," kata dr Rasyid.