Garda Revolusi Iran Kecam Pembunuhan Komandan Hamas oleh Israel

Share

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengecam keras serangan udara militer Israel yang menewaskan komandan senior sayap bersenjata Hamas, Mohammed Odeh, di Jalur Gaza pada Selasa (26/5/2026).

Penyerangan yang meruntuhkan bangunan tempat tinggal di pusat Kota Gaza tersebut turut menewaskan istri dan anak Odeh, serta memicu eskalasi konflik yang memotong jalur perdamaian di kawasan Asia Barat.

Aksi militer ini dikonfirmasi oleh militer Israel dan badan keamanan Shin Bet yang telah melacak pergerakan Odeh selama beberapa bulan atas keterlibatannya dalam peristiwa 7 Oktober.

Berdasarkan laporan BBC, operasi gabungan tersebut menyasar lokasi persembunyian Odeh di area pasar yang sedang dipadati warga menjelang hari raya Idul Adha.

Odeh baru saja menjabat selama beberapa hari untuk menggantikan Izz ad-Din al-Haddad, komandan Brigade Ezzedine al-Qassam terdahulu yang juga tewas akibat gempuran Israel pada pertengahan Mei.

Merespons situasi tersebut, IRGC merilis pernyataan resmi yang disiarkan oleh Press TV pada Jumat (29/5) terkait kondisi geopolitik regional.

"sekali lagi mengungkapkan sifat predator dan jahat dari rezim Zionis" sebut IRGC.

Pihak Tehran menyatakan bahwa konfrontasi tidak akan berakhir selama entitas politik tersebut masih eksis di wilayah Palestina.

"tidak akan mengalami perdamaian sampai rezim jahat dan pembunuh anak-anak ini dilenyapkan dari muka Bumi" tegas IRGC.

Selain itu, pihak Iran melayangkan kritik tajam terhadap proposal rekonsiliasi yang diusulkan oleh Washington di awal tahun.

"Apa yang disebut sebagai rencana perdamaian yang dibicarakan oleh Presiden Amerika, yang jahat dan suka bertaruh itu, tidak ada artinya, dengan adanya pembunuhan, pembantaian, dan teror," kata IRGC.

Kecaman juga diarahkan kepada negara-negara sekutu Barat atas pembiaran aksi militer berkepanjangan di kawasan Gaza.

"sekali lagi telah mengungkapkan kebenaran kepada seluruh dunia, terutama kepada pihak-pihak yang mengklaim membela hak asasi manusia dan kebebasan bangsa-bangsa" tambah IRGC.

Di sisi lain, perdamaian di wilayah tersebut kian rumit menyusul pernyataan resmi dari pihak Tel Aviv mengenai keterlibatan target dalam serangan masa lalu.

"Odeh bertanggung jawab atas pembunuhan, penculikan, dan pelukaan banyak warga Israel serta tentara IDF," lanjut pernyataan kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Pihak berwenang Israel menegaskan akan terus memburu seluruh figur yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa 7 Oktober.

"Sebagai bagian dari operasi gabungan IDF dan Shin Bet untuk melenyapkan teroris Mohammed Odeh, beberapa bangunan di jantung Kota Gaza yang menjadi tempat persembunyiannya diserang, setelah berbulan-bulan pengawasan intelijen untuk melacak pergerakannya serta pergerakan para pembantunya dalam organisasi." cetus Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Shin Bet.

Konflik yang terus berjalan sejak gencatan senjata Oktober lalu telah menelan korban jiwa hingga lebih dari 72.800 orang di pihak Gaza menurut data kementerian kesehatan setempat.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pada Rabu bahwa Israel berkomitmen untuk mencegah Hamas memerintah Gaza "baik secara sipil maupun militer".

Dia mengklaim "rencana emigrasi sukarela dari Gaza" akan dilaksanakan "pada waktu dan dengan cara yang tepat".

Dalam pernyataannya, Netanyahu mengatakan Israel akan "terus memburu siapa pun yang terlibat dalam pembantaian 7 Oktober", seraya menambahkan: "Cepat atau lambat, Israel akan menjangkau mereka semua."

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Garda Revolusi Iran Gaza Hamas
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author