Gangguan Kilang Migas Dunia Dongkrak Margin Keuntungan dan Harga BBM
Gelombang serangan terhadap kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia mendorong margin keuntungan pengolahan minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam sejarah pada Kamis (31/7/2026). Gangguan pasokan ini memicu lonjakan harga bahan bakar global.
Kondisi tersebut memperketat ketersediaan BBM serta avtur di pasar internasional. Dampak kenaikan harga produk energi ini berpotensi meningkatkan biaya operasional dunia usaha dan menekan daya beli masyarakat akibat membengkaknya biaya transportasi serta logistik.
Berdasarkan data LSEG, premi kontrak berjangka gasoil rendah sulfur Eropa terhadap harga minyak mentah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa senilai 74,66 dollar AS per barel pada Kamis (31/7/2026).
"Pasar memberikan sinyal bahwa kapasitas pengilangan kini menjadi persoalan yang sama pentingnya, bahkan mungkin lebih besar, dibandingkan kelangkaan minyak mentah," kata Pendiri Merritt Point Partners, Jeffrey Baird.
Tekanan pasokan diperparah oleh berhentinya operasi kilang Jizan di Arab Saudi berkapasitas 400.000 barel per hari sejak 27 Juli 2026 akibat serangan kelompok Houthi Yaman. Data Kpler mencatat fasilitas tersebut mengekspor lebih dari 200.000 barel bahan bakar per hari dalam tiga bulan terakhir.
Di Kuwait, sebagian kilang Al-Zour berkapasitas 615.000 barel per hari mogok operasi akibat pemadaman listrik. Sementara itu, serangan pesawat nirawak Ukraina mengganggu kapasitas pengolahan Rusia hingga kilang Lukoil di Perm berkapasitas 260.000 barel per hari menghentikan salah satu unit distilasinya pada Kamis (31/7/2026).
Kondisi gangguan pengolahan kilang dan memanasnya konflik Amerika Serikat-Iran yang mengganggu jalur Selat Hormuz turut mengerek laba bersih perusahaan migas besar. Exxon Mobil mencatatkan kenaikan laba bersih kuartal II-2026 sebesar 105 persen menjadi 14,53 miliar dollar AS, sementara Chevron membukukan peningkatan laba bersih 385 persen menjadi 12,07 miliar dollar AS.
Di sisi lain, masyarakat dunia menghadapi beban akibat harga bensin reguler AS yang menyentuh 4,11 dollar AS per galon. Lonjakan keuntungan perusahaan migas ini memicuusulan pengenaan pajak atas keuntungan tak terduga (windfall profit) oleh legislator AS.
"Kepala Bidang Bahan Bakar Fosil Global Witness Patrick Galey menilai produsen minyak menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari gejolak geopolitik tersebut," dilansir dari Kompas.com.
"Keuntungan luar biasa tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup," kata Senator Sheldon Whitehouse.
Di kawasan Amerika Serikat, margin pengolahan bensin sempat menembus 60 dollar AS per barel pada pertengahan Juli 2026, sedangkan margin solar mencatatkan rekor baru sebesar 93,44 dollar AS per barel.
"Produsen kilang terbesar kedua di Amerika Serikat, Valero Energy, menilai industri pengolahan minyak kini memasuki fase baru dengan margin keuntungan yang secara struktural lebih tinggi," seperti dikutip dari Reuters.