Freeport Indonesia Targetkan Tambang Bawah Tanah Grasberg Beroperasi Penuh Akhir 2027
Pemulihan operasional secara menyeluruh pada tambang bawah tanah Grasberg Block Cave atau GBC ditargetkan dapat menyentuh level 100 persen pada akhir tahun 2027. Langkah perbaikan intensif terus berjalan setelah interopsi kerja akibat insiden tanah longsor.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan bahwa perseroan memproyeksikan kemajuan perbaikan tambang bawah tanah GBC dapat mencapai level 65 persen pada paruh kedua tahun 2026. Selanjutnya, fase pemulihan ditargetkan menembus level 75 persen pada paruh pertama tahun 2027.
"Semester kedua ini bisa 65%. Semester pertama tahun depan itu bisa 75% dan menjelang akhir tahun itu menuju ke 100%," kata Tony ditemui awak media di Kompleks DPR RI, Selasa (10/6/2026).
Penyesuaian target ini berimbas pada lini produksi hilir perusahaan. Fasilitas pemurnian katoda tembaga milik perusahaan di Java Integrated Industrial and Port Estate atau JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur dijadwalkan beroperasi kembali pada kuartal III-2026.
Jadwal baru ini mengalami kemunduran dari rencana awal korporasi yang sebelumnya mematok triwulan II-2026 sebagai waktu operasional. Kapasitas produksi di smelter JIIPE nantinya dinaikkan secara bertahap mengikuti volume pasokan konsentrat dari tambang bawah tanah.
"Kurtal III ramp up, tergantung konsentratnya. [Target beroperasi penuh] sama dong [seperti tambang GBC pada akhir 2027], tunggu konsentratnya penuh dia baru bisa penuh," tegas Tony.
Fase Pemulihan Blok Produksi
Penetapan rampung total pada akhir 2027 meleset dari estimasi awal perseroan yang sempat memprediksi operasional penuh pada kuartal I-2027 hingga awal 2028. Hingga awal Mei 2026, realisasi pemulihan area terdampak longsor yang terjadi tahun lalu baru berkisar antara 40 hingga 50 persen.
"Saat ini operasional PTFI masih dalam tahap pemulihan setelah insiden tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, dengan tingkat produksi baru mencapai sekitar 40 hingga 50%. Perusahaan menargetkan dapat kembali mencapai kapasitas penuh pada awal tahun 2028," kata Tony dalam siaran press, Jumat (8/5/2026).
Sejak April lalu, korporasi telah mengaktifkan kembali kegiatan penambangan secara terbatas pada wilayah kerja Production Block 2 dan Production Block 3. Sementara itu, wilayah Production Block 1 yang mengalami dampak kerusakan paling berat akibat longsor masih ditutup total untuk perbaikan.
"Saat ini kami masih melakukan proses pemulihandi Grasberg Block Cave khususnya Production Block 1 yang memang sangat terdampak pada saat longsor itu terjadi. Sementara itu, untuk Production Block 2 di Grasberg Block Caving dan Production Block 3 itu sudah mulai kami lakukan penambangan secara terbatas," kata Tony dalam RDP di Komisi XII, medio April.
Proses rekonstruksi fisik untuk Production Block 1 dijadwalkan mulai berjalan pada Mei 2026. Target penyelesaian pengerjaan blok tersebut dipatok beres pada kuartal pertama tahun 2027.
Proyeksi Produksi dan Penjualan Komoditas
Manajemen memproyeksikan volume produksi bijih tembaga mampu menyentuh angka 200.000 ton per hari pada tahun 2027 saat kondisi normal. Untuk periode tahun ini, korporasi mematok target volume produksi bijih sebesar 156.000 ton per hari.
Sepanjang tahun 2026, target volume penjualan tembaga dipatok pada angka 1,1 miliar pon atau setara 480.000 ton. Untuk komoditas emas, volume penjualan dibidik sebesar 0,83 juta ons atau berkisar pada angka 26 ton.
Target niaga tembaga tersebut menunjukkan penurunan sebesar 8,33 persen dari realisasi volume penjualan tahun 2025 yang menembus 1,2 miliar pon atau setara 544.000 ton. Penurunan lebih tajam terjadi pada target pasar emas yang merosot sebesar 20,95 persen dibanding realisasi tahun lalu yang mencapai 1,05 juta ons atau setara 33 ton.
Berdasarkan laporan keuangan Freeport-McMoRan Inc., penjualan produk tembaga dari wilayah kerja Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 82 juta pon, atau anjlok 71,7 persen dari kuartal I-2025 yang menembus 290 juta pon. Volume produksi tembaga juga terkoreksi 67,9 persen menjadi 95 juta pon dibandingkan capaian periode sama tahun lalu sebesar 296 juta pon.
Kondisi serupa terlihat pada komoditas emas, di mana hasil produksi kuartal I-2026 berada di angka 92.000 ons atau turun sebesar 67,6 persen dari posisi tahun lalu yang mencapai 284.000 ons. Penjualan emas pada awal tahun tercatat di level 116.000 ons, terkoreksi 7,2 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar 125.000 ons akibat dampak langsung longsor tambang GBC pada September 2025.