Fortune Indonesia Gelar Rights Issue Rp27 Triliun Akuisisi Tambang
PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) merencanakan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) atau rights issue senilai Rp27,1 triliun pada Rabu, 22 Juli 2026. Aksi korporasi ini dilakukan dalam rangka transformasi bisnis perseroan dari sektor jasa komunikasi pemasaran menuju industri pertambangan batu bara kokas.
Perseroan menerbitkan sebanyak-banyaknya 215,09 miliar saham baru atau setara 99,78 persen dari modal disetor setelah PMHMETD I dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Setiap pemegang 100 saham lama berhak memperoleh 46.235 HMETD, sedangkan pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 99,78 persen.
Sebagian besar dana hasil rights issue atau sekitar Rp20,82 triliun (76,81 persen) dialokasikan untuk menguasai 49 persen saham Seri A PT Borneo Prima milik pemegang saham pengendali, IMR Asia Holding Pte Ltd (IMR AH). Transaksi pengambilalihan perusahaan tambang batu bara kalori tinggi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah tersebut dilakukan melalui mekanisme setoran modal non-tunai (inbreng).
"Sekitar 76,81% dana hasil PMHMETD I setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk memperoleh saham BP milik IMR AH senilai Rp20,82 triliun melalui penyertaan modal IMR AH kepada Perseroan dalam bentuk selain uang (inbreng)," demikian dikutip dari prospektus pada Selasa (21/7/2026).
Perubahan fokus usaha dari agen periklanan dan media menjadi perusahaan induk pertambangan ini diharapkan memicu pertumbuhan bisnis perseroan. Seiring akuisisi tersebut, aset perseroan diproyeksikan melonjak dari Rp33,55 miliar menjadi Rp8,71 triliun, sementara pendapatan usaha diperkirakan meningkat signifikan dari Rp5,4 miliar menjadi Rp195,65 miliar.
"Sekitar 76,81% dana hasil PMHMETD I setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk memperoleh saham BP milik IMR AH senilai Rp20,82 triliun melalui penyertaan modal IMR AH kepada Perseroan dalam bentuk selain uang (inbreng)," demikian dikutip dari prospektus.
Seiring akuisisi, dana tunai maksimal Rp6,28 triliun yang diperoleh dari pelaksanaan HMETD porsi pemegang saham publik akan disalurkan dalam bentuk pinjaman modal kerja kepada PT Borneo Prima. Manajemen FORU menjelaskan bahwa penetapan target akuisisi ini telah melalui evaluasi komprehensif atas cadangan, status produksi, hingga perizinan pertambangan yang telah disetujui Kementerian ESDM.
"Pengendali Perseroan, IMR Asia Holding Pte Ltd (IMR AH), akan melaksanakan HMETD melalui mekanisme inbreng dengan menyetor 49% saham BP atau sebanyak 10.780 saham Seri A senilai Rp20,82 triliun sebagai setoran modal selain uang," tulis manajemen.
Transformasi bisnis ini menyusul penurunan kinerja keuangan emiten berkode saham FORU pada Kuartal I 2026, di mana pendapatan tercatat Rp5,4 miliar atau turun 70,8 persen secara tahunan. Pada periode tersebut, perseroan membukukan rugi bersih Rp4,2 miliar, berbalik dari pencapaian laba bersih Rp738,6 juta pada Kuartal I 2025.
Seluruh rencana rights issue, aksi akuisisi saham, serta perubahan kegiatan utama perseroan dimintakan persetujuan para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 22 Juli 2026.