Fisikawan Michael Guillen Jelaskan Konsep Metafora Lokasi Tuhan di Kosmos

Share

Fisikawan sekaligus penulis sains, Dr. Michael Guillén, memaparkan pandangannya mengenai batas alam semesta yang dapat dijangkau oleh pengamatan manusia. Ia menyebut tepi alam semesta teramati sebagai analogi untuk menggambarkan lokasi Tuhan.

Pernyataan tersebut disampaikan Guillén sebagai bentuk ilustrasi konsep kosmologi yang rumit, seperti dilansir dari Detik iNET.

Secara teknis, jarak wilayah yang dimaksud berada sekitar 439 miliar triliun kilometer dari Bumi. Angka tersebut setara dengan kira-kira 46 miliar tahun cahaya.

"Jika ingin membayangkan di mana Tuhan berada, itu ada di tepi alam semesta yang dapat kita amati," ujarnya.

Meski demikian, Guillén menegaskan bahwa penggunaan istilah tersebut bukan merupakan sebuah klaim teologis. Gagasan itu murni digunakan untuk membantu memahami garis batas kemampuan pengamatan sains.

"Ini bukan klaim teologis, melainkan cara menggambarkan batas dari apa yang bisa kita amati," ujarnya.

Garis batas yang dimaksud muncul akibat keterbatasan kecepatan cahaya dalam merambat di ruang angkasa. Cahaya membutuhkan waktu untuk sampai ke Bumi sejak peristiwa Big Bang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

Pengembangan ruang yang terus berlangsung membuat posisi objek-objek kosmik kini berada makin jauh. Kondisi ini melampaui perhitungan jarak tempuh cahaya secara sederhana.

"Karena ruang terus mengembang, apa yang kita lihat sekarang jauh melampaui jarak sederhana yang kita bayangkan," ujarnya.

Para ilmuwan meyakini terdapat berbagai galaksi serta struktur kosmik lain di luar jangkauan tersebut. Namun seluruh objek itu belum bisa teramati karena cahayanya belum pernah sampai ke Bumi.

Konsep ini menjadi salah satu pijakan penting dalam kosmologi modern. Pembahasan ini sekaligus menunjukkan keterbatasan kemampuan manusia untuk memahami seluruh isi alam semesta secara menyeluruh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author