FIFA Gandeng EFC untuk Perluas Peserta Piala Dunia Antarklub 2029
Format baru Piala Dunia Antarklub memberikan keuntungan besar bagi sejumlah tim elite. Seperti dikutip dari Bola, Chelsea mengantongi hadiah sekitar 84 juta paun atau setara Rp1,9 triliun setelah menjuarai edisi perdana yang diikuti 32 peserta. Kesuksesan nilai ekonomi turnamen ini mendorong FIFA untuk mengevaluasi format kompetisi ke depan.
Badan sepak bola dunia tersebut kini mempertimbangkan untuk menambah jumlah kontestan pada edisi berikutnya yang dijadwalkan bergulir pada 2029. Langkah ekspansi ini diproyeksikan membuka kesempatan lebih besar bagi klub-klub raksasa Eropa untuk berpartisipasi. Tim-tim dari Premier League juga berpeluang mengirimkan lebih banyak wakil mereka dalam ajang bergengsi ini.
Berdasarkan laporan The Guardian, FIFA telah menyepakati pembentukan usaha patungan atau joint venture bersama European Football Clubs (EFC). Organisasi EFC ini merupakan wadah yang merepresentasikan lebih dari 700 klub di daratan Eropa.
Kolaborasi strategis tersebut ditujukan untuk mengelola operasional Piala Dunia Antarklub secara bersama. Kerja sama ini diyakini akan memuluskan rencana penambahan jumlah peserta dari yang semula 32 klub menjadi 48 klub mulai edisi 2029.
Ketentuan Pembatasan Wakil Negara dan Koefisien UEFA
Pada penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub 2025, Eropa mendapatkan jatah 12 klub, sedangkan Amerika Selatan mengirimkan enam klub. Sementara itu, CONMEBOL memiliki enam wakil, CONCACAF lima klub, serta AFC dan CAF masing-masing mengirimkan empat tim. Sistem kualifikasi yang ketat membuat beberapa juara liga top Eropa gagal berangkat ke turnamen tersebut. Liverpool, Barcelona, dan Napoli terpaksa absen meskipun berstatus sebagai juara di kompetisi domestik Inggris, Spanyol, dan Italia.
Kegagalan tersebut terjadi karena tiket kelayakan dari zona Eropa diprioritaskan bagi empat juara Liga Champions terdahulu. Sisa kuota kemudian diberikan kepada delapan klub yang memiliki nilai koefisien UEFA tertinggi. Selain regulasi koefisien, FIFA menerapkan aturan ketat yang membatasi jumlah kepesertaan. Setiap negara anggota hanya diperbolehkan mengirimkan maksimal dua tim untuk bertanding di ajang ini.
Peluang Klub Premier League dan Aspek Komersial
Pihak EFC saat ini sedang mengupayakan agar regulasi batasan maksimal dua klub per negara dihapus. Jika desakan tersebut diakomodasi, peluang tim-tim asal Premier League untuk tampil di Piala Dunia Antarklub akan terbuka lebar.
Potensi tersebut didukung oleh posisi kompetitif klub-klub Inggris di tingkat regional. Saat ini, Arsenal, Liverpool, dan Manchester City secara konsisten berada di dalam jajaran delapan besar peringkat koefisien UEFA. EFC menilai bahwa kehadiran lebih banyak klub Eropa akan mendongkrak nilai komersial turnamen secara signifikan.
Pandangan ini mengemuka setelah FIFA sempat menghadapi kendala dalam memasarkan hak siar kompetisi tersebut. Kesepakatan hak siar global senilai 1 miliar dolar AS akhirnya berhasil disepakati bersama platform DAZN. Langkah ini terwujud setelah perusahaan penyiaran tersebut memperoleh suntikan investasi dengan nilai setara dari Surj Sports Investments yang disokong pemerintah Arab Saudi.
Pemulihan Hubungan FIFA dan EFC serta Dana Solidaritas
Hubungan kerja sama antara FIFA dan EFC kini dilaporkan berangsur membaik. Sebelumnya, relasi kedua belah pihak sempat menegang menjelang edisi pertama di Amerika Serikat karena FIFA memilih mengelola turnamen secara mandiri.
EFC yang dipimpin oleh Presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi, kini memiliki pengaruh kuat dengan menaungi lebih dari 700 klub. Real Madrid juga telah kembali bergabung setelah sempat menerima sanksi lima tahun akibat keterlibatan dalam proyek Liga Super Eropa. FIFA dikabarkan puas dengan kapabilitas komersial EFC dalam mengelola kompetisi di bawah UEFA. Pendapatan dari hak media serta sponsor untuk Liga Champions dan kompetisi Eropa lainnya mencatatkan kenaikan sekitar 25 persen untuk siklus empat tahun yang dimulai pada 2027.
Di samping rencana ekspansi, EFC tetap memprioritaskan penyelesaian distribusi dana solidaritas senilai 185 juta paun dari edisi sebelumnya. Dana ini dialokasikan bagi klub-klub di seluruh dunia yang tidak berpartisipasi dalam turnamen. Melalui skema pembagian merata, setiap klub yang berkompetisi di kasta tertinggi berkesempatan menerima dana sekitar 50 ribu paun atau Rp1,1 miliar. Pembayaran hadiah utama turnamen sebesar 740 juta paun sendiri telah dituntaskan oleh pihak penyelenggara.
Meskipun demikian, penyaluran dana solidaritas masih mengalami penundaan karena enam konfederasi belum menyepakati mekanisme distribusinya. Setelah sengketa domestik ini selesai, fokus para pemangku kebijakan akan dialihkan pada pembahasan format 48 klub untuk tahun 2029.