Festival Keluarga Malole di Rote Ndao Perkuat Pengasuhan Bersama demi Cegah Stunting

Share

Kabupaten Rote Ndao yang dikenal sebagai ujung selatan Indonesia memiliki tantangan besar di sektor kesehatan, khususnya terkait masalah stunting. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di wilayah ini tercatat mencapai 32,4 persen.

Kondisi tersebut memicu diperlukannya langkah nyata perbaikan gizi yang berjalan beriringan dengan penguatan pola pengasuhan serta perubahan perilaku keluarga. Dilansir dari Detik Travel, salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Festival Keluarga Malole.

Gerakan ini diinisiasi oleh Yayasan Selancar Arungi Indonesia (ARUNGI), sebuah afiliasi dari SurfAid International, yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Festival tersebut bertujuan mengajak ayah dan ibu untuk berbagi peran dalam pengasuhan demi mewujudkan keluarga yang lebih sehat, setara, dan tangguh.

Salah satu metode yang diperkuat dalam kegiatan ini adalah integrasi antara kelas pengasuhan dan Kintal Gizi. Kintal Gizi merupakan istilah lokal yang digunakan masyarakat setempat untuk menyebut kebun gizi di pekarangan rumah.

Melalui kelas pengasuhan, para orang tua mendapatkan wawasan mendalam mengenai perawatan anak, kesehatan keluarga, pola konsumsi makanan bergizi, hingga pentingnya andil ayah dalam keseharian. Di sisi lain, Kintal Gizi berfungsi menjadi penyedia bahan makanan bernutrisi untuk mendukung kebutuhan pangan rumah tangga lewat kelas memasak, yang saat ini penerapannya sudah mencakup 6 desa di Rote Ndao.

Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto menegaskan keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.

"Pembangunan keluarga adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang sehat, harmonis, dan saling mendukung memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik dari aspek kesehatan, pendidikan, maupun pembentukan karakter," ujar Dr. Bonivasius.

"Ketika ayah terlibat aktif dalam pengasuhan, ibu mendapat dukungan yang lebih besar, anak memperoleh perhatian yang lebih baik, dan keluarga memiliki peluang lebih besar untuk menerapkan pola hidup sehat. Karena itu, pengasuhan bersama merupakan bagian penting dari solusi pencegahan stunting," imbuh Dinnia Joedadibrata, Direktur Eksekutif ARUNGI.

Secara geografis, Rote Ndao dibentuk resmi pada 10 April 2002 dan kini menginjak usia 24 tahun. Kabupaten ini membentang seluas 1.280,10 kilometer persegi dengan populasi mencapai 152.613 jiwa menurut hasil sensus penduduk pada tahun 2024.

Wilayah administratif Rote Ndao mencakup 11 kecamatan, 7 kelurahan, serta 112 desa. Untuk kualitas pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah ini berada di angka 65,79 pada tahun 2023, menempati urutan ke-15 dari 22 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meskipun menghadapi persoalan stunting, Rote Ndao memiliki potensi pariwisata yang sangat potensial. Sektor pariwisata daerah ini mengandalkan destinasi populer seperti Pantai Nembrala dan pantai Batu Termanu yang menawarkan pasir putih dan gulungan ombak yang diminati peselancar pemula hingga profesional.

Pelaksanaan Festival Keluarga Malole dipusatkan di Halaman rumah jabatan Bupati Rote Ndao pada Selasa (9/6). Acara ini dihadiri oleh lebih dari 300 peserta yang datang dari berbagai kecamatan di wilayah setempat.

Pasangan selebritas sekaligus aktivis keluarga, Widi Mulia dan Dwi Sasono, turut hadir dalam festival tersebut. Mereka membagikan pengalaman langsung kepada para peserta mengenai krusialnya membangun iklim keluarga yang sehat, harmonis, serta saling memberikan dukungan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author