Kanker Usus Besar Mengancam Usia Muda Kenali Faktor Risiko dan Gejalanya

Share

Kanker usus besar atau kanker kolorektal kini semakin sering menyerang populasi yang berusia lebih muda. Berbagai studi di negara maju menunjukkan lonjakan kasus pada pasien di bawah usia 50 tahun yang terus terjadi sejak era 1990-an.

Faktor genetik menjadi pemicu utama pada sekitar 20 persen pasien kanker usus besar usia dini. Meski demikian, mayoritas penderita di usia muda tidak memiliki riwayat kondisi genetik tersebut.

Dikutip dari Detik Health yang melansir data Mayo Clinic, terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kanker usus besar pada usia muda.

Faktor pertama adalah perubahan mikrobioma usus, di mana pengidap kanker ini cenderung memiliki variasi bakteri usus yang lebih sedikit. Penggunaan antibiotik, terutama saat usia dini, juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma tersebut.

Pola makan tidak sehat turut memicu risiko, seperti kebiasaan mengonsumsi minuman manis dan makanan olahan dari masa remaja hingga dewasa. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik akibat duduk berjam-jam meningkatkan kerentanan tubuh.

Faktor risiko terakhir adalah minimnya deteksi dini. Sebagian besar orang baru mulai menjalani pemeriksaan atau skrining kanker usus besar setelah memasuki usia 45 tahun.

Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan studi dari National Cancer Institute terhadap lebih dari 5.000 pasien di bawah usia 50 tahun, gejala awal umumnya muncul dalam rentang waktu 3 bulan hingga 2 tahun sebelum diagnosis ditegakkan.

Sakit perut berupa kram atau ketidaknyamanan yang memburuk secara terus-menerus menjadi keluhan yang paling sering muncul. Keluhan lain yang wajib dicurigai adalah pendarahan rektal yang ditandai dengan munculnya darah di toilet atau feses.

Pasien juga kerap mengalami diare kronis serta anemia akibat kekurangan sel darah merah. Kondisi pendarahan internal yang berlangsung lama ini kemudian memicu tubuh merasa sangat lelah sepanjang waktu.

Penurunan berat badan secara drastis tanpa alasan yang jelas serta hilangnya energi secara signifikan juga perlu diwaspadai. Gejala lain mencakup perut kembung konstan akibat adanya sumbatan yang menghalangi pengosongan usus secara tuntas.

Metode Diagnosis Medis

Pemeriksaan medis untuk mendeteksi kanker usus besar dapat dilakukan melalui beberapa metode skrining. Metode pertama adalah kolonoskopi, yaitu memasukkan selang fleksibel berkamera ke dalam rektum untuk melihat kelainan usus secara langsung.

Metode kedua berupa tes DNA tinja yang mendeteksi perubahan genetik pada sel sampel sekaligus mencari jejak darah tersembunyi. Prosedur laboratorium lain yang serupa adalah FOBT atau FIT untuk mendeteksi keberadaan darah dalam tinja.

Metode terakhir adalah virtual kolonoskopi atau CT colonography. Prosedur pemindaian ini menghasilkan visualisasi organ dalam perut untuk memetakan kelainan pada usus besar serta rektum.

Kisah Pasien Usia Muda

Kasus nyata di Indonesia menimpa seorang pria asal Bandung bernama Fredihan yang didiagnosis menderita kanker usus besar beberapa bulan sebelum dirinya menginjak usia 30 tahun. Pada Mei 2025, Fredihan mulai merasakan gejala awal berupa sensasi aneh di perut.

"Ada yang kerasa aneh di perut bagian bawah," ujarnya dalam unggahan video TikTok dikutip Detik Health atas izin yang bersangkutan, Selasa (3/3/2026).

Awalnya, hasil tes urine, tes darah, dan USG milik Fredihan menunjukkan kondisi normal. Namun, karena memiliki riwayat genetik kanker dari ayah dan kakaknya, dokter merekomendasikan tindakan kolonoskopi hingga akhirnya ditemukan massa tumor ganas.

Kondisi serupa dialami oleh seorang wanita bernama Cheryl yang didiagnosis menderita kanker usus besar pada usia 44 tahun. Kanker tersebut baru terdeteksi setelah mencapai stadium lanjut karena gejala awalnya sering diabaikan.

Cheryl kerap merasakan nyeri perut hebat yang awalnya dia kira sebagai reaksi alergi setelah mengonsumsi makanan.

"Setiap kali saya makan sesuatu, saya akan merasa mual. Perut saya sakit sekali. Sampai-sampai saya menjadi seorang introvert karena saya tidak bisa keluar rumah," ucap Cheryl di akun TikToknya @just.cheryl dikutip Kamis (9/1/2025).

Sebelum mendapat diagnosis resmi, Cheryl juga menderita sembelit parah selama bertahun-tahun yang diselingi dengan diare. Dia kerap tidak bisa buang air besar selama 3 hingga 4 hari, namun memilih mengabaikan gejala tersebut dan hanya meminum obat bebas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author