Studi Ungkap Faktor Penyebab Respons Obat Setiap Orang Berbeda

Share

Efektivitas suatu obat ternyata tidak semata-mata dipengaruhi oleh jenis kandungan serta dosisnya. Kondisi fisik, riwayat medis, faktor lingkungan, hingga keragaman biologis turut memegang peranan penting dalam menentukan reaksi tubuh terhadap obat. Perbedaan respons ini tergolong wajar mengingat mekanisme kerja tubuh setiap individu tidak persis sama.

Usia, tingkat kesehatan, fungsi organ hati dan ginjal, kebiasaan hidup, serta konsumsi obat lain secara bersamaan dapat memengaruhi proses penyerapan obat. Seperti dilansir dari Detik Health, riset prospektif yang melibatkan 18.820 pasien di dua rumah sakit umum Inggris mencatat bahwa 6,5% kasus rawat inap dipicu oleh Adverse Drug Reaction (ADR). Sekitar 80% di antaranya menjadi penyebab utama pasien dirawat.

Faktor genetik juga memegang peranan dalam respons pengobatan. Variasi gen tertentu sanggup memengaruhi kinerja enzim dan protein yang bertugas mengolah obat di dalam tubuh.

Pada sebagian orang, metabolisme obat berlangsung lebih cepat sehingga zat aktif terbuang sebelum memberikan khasiat. Sebaliknya, proses metabolisme yang lambat membuat obat bertahan lebih lama dan berpotensi meningkatkan risiko efek samping. Beberapa jenis obat bahkan membutuhkan proses aktivasi oleh tubuh terlebih dahulu agar bekerja optimal. Perubahan genetik dapat memengaruhi kecepatan proses tersebut, sehingga obat dan dosis yang sama belum tentu memberikan hasil serupa.

Hubungan antara variasi genetik dan respons tubuh dipelajari melalui ilmu farmakogenomik. Bidang ini tidak dipakai untuk memvonis kecocokan obat secara mutlak hanya berdasarkan DNA pasien. Data genomik diposisikan sebagai bagian dari pertimbangan medis yang lebih luas. Informasi ini digabungkan bersama status kesehatan, riwayat penyakit, lingkungan, pola hidup, serta obat lain yang sedang dikonsumsi.

National Human Genome Research Institute memperkirakan lebih dari 98% populasi memiliki minimal satu variasi genomik yang berpotensi memengaruhi respons obat resep. Kendati demikian, tidak semua variasi otomatis menimbulkan dampak klinis. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mencantumkan penanda farmakogenomik pada sejumlah label obat resmi. Meskipun demikian, tidak semua informasi genetik tersebut langsung mewajibkan tindakan medis tertentu.

Tantangan Data Populasi dan Relevansi Lokal

Sebagian besar acuan farmakogenomik global berasal dari penelitian terhadap populasi Eropa dan Amerika Utara. Padahal, frekuensi varian gen dapat berbeda signifikan antaretnis maupun antarpopulasi di suatu negara.

Salah satunya adalah gen CYP2C19, enzim yang memetabolisme klopidogrel, obat asam lambung golongan PPI, serta beberapa antidepresan. Penelitian lintas etnis di Indonesia mencatat proporsi rapid metabolizer sebesar 38,5%, intermediate metabolizer 41,6%, dan poor metabolizer 19,9%. Penelitian tersebut menunjukkan variasi antaretnis yang nyata, di mana partisipan asal Papua jauh lebih berpotensi tergolong poor metabolizer dibandingkan partisipan asal Bali dengan rasio odds 11,0.

Enzim NAT2 yang memetabolisme isoniazid untuk pengobatan tuberkulosis juga menunjukkan variasi. Studi pada kohort 207 pasien TB di Indonesia memperlihatkan 69,5% pasien tergolong slow acetylator.

Riset lain pada 100 pasien yang mengalami kerusakan hati berat akibat obat anti-tuberkulosis (AT-DILI) dan 210 kontrol menunjukkan status slow acetylator berkaitan dengan risiko AT-DILI, dengan rasio odds 3,64 (IK 95% 2,21-6,00).

Data ini menunjukkan bahwa asumsi medis berbasis populasi Barat tidak bisa diterapkan begitu saja. Keputusan terapi tetap harus mempertimbangkan kondisi menyeluruh pasien, di mana analisis genetik berfungsi melengkapi diagnosis medis yang ada.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author