Ahli Gizi Ungkap Fakta Medis di Balik Mitos Makanan Pemicu Kehamilan Kembar

Share

Keinginan pasangan suami istri untuk memiliki anak kembar sering kali memunculkan berbagai anggapan di masyarakat. Salah satu mitos yang berkembang adalah konsumsi jenis makanan tertentu, seperti susu hingga ubi jalar, dapat membantu mewujudkan kehamilan tersebut.

Mitos mengenai asupan nutrisi ini kemudian diluruskan oleh pakar kesehatan. Seperti dilansir dari HaiBunda, Ahli Gizi di Rumah Sakit Apollo Spectra, Chennai, Manjula Sridhar, menyatakan bahwa belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

"Makanan tidak ada hubungannya dengan ovulasi ganda. Meskipun makanan dapat memengaruhi kesuburan, tidak ada makanan yang dapat meningkatkan peluang kelahiran kembar," kata Sridhar dilansir dari OnlyMyHealth.

Teori mengenai hubungan konsumsi produk susu dengan melonjaknya potensi anak kembar non-identik dipicu oleh studi observasional. Menurut Sridhar, perempuan dengan indeks massa tubuh (BMI) tinggi atau yang mengonsumsi banyak produk susu memiliki tingkat kelahiran kembar non-identik yang sedikit lebih tinggi.

Kondisi biologis tersebut dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan mirip insulin (IGF-1) yang berdampak pada proses ovulasi. Kendati demikian, Sridhar menekankan bahwa temuan itu tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat yang pasti.

"Bukti menunjukkan hubungan korelasional yang tidak menetapkan hubungan sebab-akibat langsung. Tidak ada bukti ilmiah tentang diet atau makanan apa pun yang dapat secara konsisten meningkatkan tingkat konsepsi kembar karena kelahiran kembar sebagian besar bergantung pada sifat genetik dan biologis," jelasnya.

Anggapan serupa juga menerpa konsumsi ubi jalar dan kentang manis yang populer karena tingginya angka kelahiran kembar di wilayah Afrika Barat. Sridhar kembali menegaskan bahwa fenomena regional itu tidak berkaitan dengan menu diet harian.

"Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mengonsumsi ubi jalar, kentang manis, atau hidangan India tertentu akan meningkatkan peluang kelahiran kembar," jelas Sridhar.

Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan pola diet khusus yang terbukti secara klinis mampu memicu kehamilan kembar. Sridhar menyebutkan peluang pembuahan ganda sepenuhnya dikontrol oleh hormon ovarium, usia, serta faktor genetika sang ibu.

"Saat ini, belum ada diet yang terbukti secara klinis dapat meningkatkan peluang kehamilan kembar. Kehamilan kembar terutama bergantung pada faktor genetik dan usia serta kondisi tubuh ibu yang mengontrol hormon ovariumnya," kata Sridhar.

Dibandingkan mengejar makanan tertentu demi anak kembar, para ibu disarankan fokus pada pemenuhan gizi seimbang untuk kesehatan reproduksi. Sridhar menjelaskan hubungan nutrisi dan pelepasan sel telur tidak berjalan sesederhana itu.

"Nutrisi keseluruhan seorang perempuan dapat memengaruhi fungsi ovarium, tetapi tidak ada hubungan langsung dan konsisten yang terbukti antara makanan tertentu dan pelepasan banyak sel telur," ujarnya.

Untuk menjaga keteraturan ovulasi dan keseimbangan hormon, terdapat beberapa faktor diet utama yang mendukung kesehatan reproduksi. Faktor tersebut meliputi asupan protein yang cukup, lemak sehat, kalori seimbang, serta konsumsi makanan kaya nutrisi kesuburan.

Proses pembentukan janin kembar lebih didominasi oleh kondisi medis dan biologis daripada pola makan sehari-hari. Sridhar menegaskan ada empat faktor utama yang memengaruhi terjadinya kehamilan ganda pada perempuan.

Pertama adalah faktor genetika, di mana riwayat keluarga dengan kembar non-identik memperbesar peluang terjadinya ovulasi ganda. Faktor kedua berkaitan dengan usia ibu, yakni perempuan di atas usia 30 hingga 35 tahun memiliki peluang lebih tinggi akibat peningkatan kadar hormon perangsang folikel.

Faktor ketiga berasal dari pengaruh hormonal alami yang mengontrol pola ovulasi secara personal. Terakhir, penggunaan perawatan kesuburan seperti teknik reproduksi berbantuan dan stimulasi ovarium secara signifikan mampu meningkatkan pelepasan beberapa sel telur sekaligus.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author