Kementerian ESDM Siapkan CNG 3 Kilogram Gantikan LPG

Share

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) dengan kemasan tabung 3 kilogram sebagai energi alternatif untuk menggantikan LPG 3 kilogram. Langkah strategis ini diambil pemerintah guna mengatasi ketimpangan antara tingginya konsumsi LPG nasional dan rendahnya produksi dalam negeri, seperti dilansir dari Detik Finance pada Kamis (25/6/2026).

Data pemerintah menunjukkan bahwa konsumsi LPG nasional saat ini menembus angka 8,5 juta ton per tahun. Sementara itu, kemampuan produksi domestik hanya berkisar antara 1,8 hingga 1,9 juta ton per tahun, sehingga sisa kebutuhan sebesar 75 hingga 80 persen terpaksa dipenuhi melalui impor.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan ketimpangan tersebut terjadi karena keterbatasan bahan baku LPG di dalam negeri, sementara komoditas gas bumi jenis lain justru melimpah.

"Selebihnya kita impor. 75% sampai 80% impor. Kenapa LPG kita cuma 20% dari total kapasitas konsumsi kita? Karena memang bahan baku itu C3 C4. Gas kita melimpah, tapi gas kita itu C1 C2," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM dalam acara CNBC Energy Forum 2026 di Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).

Pemerintah kini mengalihkan fokus optimalisasi pada gas bumi berjenis C1 dan C2 yang memiliki cadangan sangat besar di Indonesia untuk diolah menjadi CNG. Salah satu potensi besar tersebut berada di Kalimantan Timur melalui temuan cadangan gas raksasa (giant discovery) sebesar 5 triliun kaki kubik.

"Ditambah 2 TCF, serta konsentrat yang setara dengan 200.000 barel minyak. Itu di 2028-2029 produksinya itu bisa mencapai 3.000 MM. Sementara untuk meng-cover konsumsi LPG kita tidak lebih dari 800 MM. Jadi, surplusnya banyak sekali," beber Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Program konversi ini didukung oleh kesiapan infrastruktur karena pemanfaatan CNG ukuran 12 kilogram dan 50 kilogram sebelumnya sudah berjalan pada sektor industri hotel, restoran, serta kafe. Saat ini, pengujian untuk varian tabung 3 kilogram masyarakat bawah telah memasuki fase krusial bersama PT Pertamina (Persero).

"Cuma untuk rakyat kita di bawah yang dikenakan subsidi itu adalah harus pakai tabung yang 3 kg, tekanannya itu 200 sampai 250 bar. Nah, ini yang kita sekarang lagi uji coba dia pakai valve. Nanti kompornya tidak perlu diganti kompor langsung, dan itu bisa menahan peledakan dan kebakaran.

Itu sudah sekarang lagi diuji. Sekarang kita lagi uji tahap ketiga mudah-mudahan bulan Juli sudah bisa produksi," terang Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author