Energi Mega Persada Gencarkan Produksi Migas dan Akuisisi Aset di 2026

Share

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menggenjot produksi minyak dan gas bumi melalui rencana pengeboran lebih dari 120 sumur antara 2026 hingga 2031 serta menyiapkan produksi gas dari Blok Gebang pada semester I-2027.

ENRG menargetkan volume awal produksi gas Blok Gebang di Langkat, Sumatra Utara, mencapai sekitar 40 juta kaki kubik gas per hari (Mmscfd), yang setara 15% dari total produksi gas perusahaan saat ini.

Herwin Wahyu Hidayat, Kepala Investor Relations ENRG, menjelaskan bahwa pengeboran tersebut mencakup lebih dari 20 sumur eksplorasi dan 100 sumur pengembangan selama lima tahun ke depan.

"Jadi, sangat signifikan katalis positif dari aset Gebang ini," ujar Herwin dalam diskusi virtual BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (13/8/2026).

Herwin menambahkan, perseroan menargetkan produksi gas di Blok Gebang meningkat hingga 100 Mmscfd pada awal 2030, atau sekitar separuh dari produksi gas ENRG saat ini.

ENRG juga menemukan cadangan minyak dan gas baru akhir 2025 dan awal 2026 di empat blok, antara lain Blok Bentu (Riau), Selat Malaka, South CPP (Riau), dan Blok Sengkang (Sulawesi Selatan), meski temuan tersebut masih perlu konfirmasi untuk menjadi contingent resources atau contingent reserves.

Hingga kini, ENRG mengelola 13 blok migas, dengan 12 di Indonesia dan satu di Mozambik, Afrika. Dari jumlah tersebut, sembilan blok sudah berstatus produksi komersial, sedangkan empat lainnya masih dalam tahap eksplorasi atau pengembangan.

Herwin menjelaskan strategi pertumbuhan lebih mengutamakan akuisisi aset ketimbang membangun dari nol (greenfield) untuk menambah produksi komersial dan menghemat belanja modal.

"Kami sudah menjalankan strategi ini sejak 2024 dengan mengakuisisi Blok Siak dan Kampar, serta memperbesar kepemilikan di Blok Sengkang dari 49% menjadi 100%." ujar Herwin.

Perseroan juga menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan BUMN Jepang, Japex, pada 2025 untuk mengoperasikan dan memonetisasi Blok Gebang dengan kepemilikan 50%-50% antara ENRG dan Japex.

"Kami cukup yakin aset Gebang dapat mulai beroperasi di semester I-2027," tambah Herwin.

Japex memberikan pinjaman kepada joint venture ENRG-Japex dengan plafon sekitar US$110 juta plus bunga kompetitif.

Wakil Direktur Utama dan CFO ENRG, Edoardus Ardianto, menyatakan dalam 3-5 tahun ke depan perseroan fokus mengembangkan pertumbuhan organik terutama pada aset gas yang sudah dan akan berproduksi, serta membuka peluang akuisisi blok minyak yang memenuhi kriteria investasi.

"Kami memproyeksikan kontribusi produksi gas masih di atas 70% dalam 3-5 tahun ke depan," ujar Edoardus.

Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Abida M. Armand, mencermati banyak katalis positif bagi ENRG, termasuk temuan cadangan migas dan aksi korporasi seperti private placement Juni 2026 dan rights issue Agustus 2026 yang menawarkan 13,28 miliar saham baru.

Rights issue ini berpotensi meraup dana Rp4,12 triliun dengan Bakrie Kalila Investment sebagai standby buyer yang siap membeli 10,5 miliar saham.

Abida menyebut kenaikan harga minyak global rata-rata US$87 per barel menguntungkan ENRG meski 80% pendapatan berasal dari gas sehingga volatilitas harga minyak tidak terlalu berdampak besar.

"Setiap kenaikan US$5 per barel akan mendongkrak laba bersih sekitar 4%." ujar Abida.

Untuk target harga saham, Abida menyampaikan saat ini berada di kisaran Rp1.300-an dengan valuasi di Rp1.500 sampai Rp1.700, dan potensi kenaikan sekitar 20% setelah rights issue.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author