Horacio Elizondo dan Marco Materazzi Kenang Final Piala Dunia 2006

Share

Mantan wasit asal Argentina Horacio Elizondo dan mantan bek timnas Italia Marco Materazzi mengenang kembali momen final Piala Dunia 2006 di Berlin menjelang peringatan 20 tahun pertandingan bersejarah tersebut pada Kamis, 9 Juli 2026.

Pertandingan final antara Italia dan Prancis tersebut diwarnai aksi tandukan Zinedine Zidane ke dada Marco Materazzi yang berujung kartu merah, sebelum akhirnya Italia keluar sebagai juara lewat adu penalti.

Horacio Elizondo mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak melihat insiden tandukan tersebut secara langsung karena fokus mengikuti arah bola di area lain lapangan.

"Twenty years have passed since that 9th July, and now I can admit it: I didn't see a thing," kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Elizondo menjelaskan bahwa dirinya baru mengetahui kejadian tersebut setelah asisten wasit keempat, Medina Cantalejo, memberikan informasi melalui interkom mengenai tandukan keras Zidane.

"Terrible cabezazo (terrible headbutt)," ujar Medina Cantalejo, asisten wasit keempat.

Elizondo menambahkan bahwa Cantalejo meyakinkannya bahwa ia tidak akan mempercayai matanya sendiri saat melihat siaran ulang nanti.

"When you see the replays, you won't believe your eyes." kata Medina Cantalejo, asisten wasit keempat.

Keputusan kartu merah tersebut diperkuat ketika kapten timnas Prancis tersebut langsung menundukkan kepala dan melepas ban kaptennya tanpa melakukan protes.

"The 2006 World Cup final was the most important match of my career, but not the most complicated." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Elizondo menilai atmosfer pertandingan di Jerman Barat masih kalah rumit dibanding tensi tinggi yang pernah ia pimpin dalam tiga final Copa Libertadores di Amerika Selatan.

"The 2006 World Cup is remembered for two incidents: Italy's triumph and Zidane's headbutt." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Laga final itu juga diwarnai penalti awal Prancis setelah Materazzi dinilai menjatuhkan Florent Malouda di kotak terlarang pada menit ketujuh.

"I always worked hard on my positioning on the pitch; choosing a good vantage point helps in making the right decision." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Elizondo mengonfirmasi penalti tersebut sangat jelas karena sudut pandangnya yang sempurna di lapangan.

"For me, it was a goal; the ball had crossed the line." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Setelah gol penalti Zidane yang membentur mistar, Materazzi menyamakan kedudukan pada menit ke-19 sebelum laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.

"Did you see it?" tanya Buffon, kiper Italia.

Asisten wasit menjawab tidak melihat apa-apa, sementara Gennaro Gattuso meyakinkan Lilian Thuram mengenai insiden tandukan tersebut.

"No, I didn't see anything." kata asisten wasit, Dario Garcia.

Gattuso menegaskan bahwa Zidane benar-benar melakukan tandukan dan ia tidak akan berbohong kepada temannya.

"He headbutted him. We're friends, trust me, I'd never lie to you." kata Gennaro Gattuso, pemain Italia.

Elizondo kemudian sengaja menghampiri asistennya, Dario Garcia, untuk menunjukkan kepada publik bahwa keputusan diambil berdasarkan koordinasi tim.

"As I walked towards Zidane with my hand on my pocket, he lowered his gaze and started taking off his captain's armband." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Zidane sempat menanyakan apakah wasit mendengar perkataan Materazzi kepadanya sebelum ia berjalan keluar lapangan.

"Did you hear what Materazzi said to me?" tanya Zinedine Zidane, mantan kapten Prancis.

Elizondo menjawab tidak mendengar perkataan tersebut, dan setahun kemudian mereka sempat makan malam bersama keluarga tanpa membahas final itu lagi.

"At the World Cup in Germany, FIFA decided for the first time to broadcast goals and the most important moments of the match on the screens." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Namun, layar besar stadion dipastikan tidak pernah menayangkan insiden yang melibatkan keputusan wasit yang meragukan.

"Beestring, if this photo gets out, it could cause controversy." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Materazzi meminta foto bersama Elizondo pada tahun 2008 untuk disimpan di ruang tamunya dan berjanji tidak akan mempublikasikannya.

"Every year, I receive dozens of phone calls." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Elizondo menambahkan bahwa istrinya hampir cemburu karena setiap tanggal 9 Juli ia selalu menerima banyak pertanyaan terkait final tersebut.

"On social media, some people still thank me; I simply did what I had to do." kata Horacio Elizondo, mantan wasit Piala Dunia 2006.

Sementara itu, Marco Materazzi dalam wawancaranya kepada AS dan L'Equipe membeberkan detail provokasi verbal yang memicu kemarahan Zidane.

"Zidane's headbutt? I wasn't expecting it in that moment." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Materazzi mengaku beruntung karena aksi tersebut mengejutkannya, sehingga tubuhnya tidak menegang dan terhindar dari cedera fatal.

"I was lucky enough that the whole episode took me by surprise because if I had expected something like that to happen and had been ready for it, I'm sure both of us would have ended up being sent off." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Awal mula perselisihan terjadi karena Materazzi ditugaskan oleh pelatih Marcello Lippi untuk mengawal ketat pergerakan Zidane di kotak penalti.

"I'll give you my shirt later" kata Zinedine Zidane, mantan kapten Prancis.

Mendengar tawaran kaos dari Zidane, Materazzi membalas dengan kalimat provokatif mengenai saudara perempuan sang kapten.

"I'd rather have his sister than his shirt." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Materazzi mengakui ucapannya bodoh, namun merasa reaksi tandukan fisik dari Zidane sangat berlebihan dibandingkan makian biasa di jalanan kota-kota besar.

"My words were stupid but did not deserve that reaction." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Ia juga membantah rumor yang menyebut dirinya menghina ibu Zidane, mengingat ibunya sendiri telah meninggal sejak ia remaja.

"I'm no saint, but neither is Zidane" kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Materazzi mengingatkan bahwa Zidane juga bukan orang suci dan pernah menerima kartu merah pada Piala Dunia 1998.

"It would've been a gesture of goodwill." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Ia sebenarnya lebih memilih menyelesaikan masalah tersebut dengan jabat tangan setelah pertandingan demi mengakhiri perselisihan.

"If I had seen it coming, I might've raised my hand to push him away, and the referee probably would've sent both of us off." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Saat terkapar di lapangan, Materazzi sengaja tetap berbaring untuk memastikan wasit memberikan kartu merah kepada lawannya.

"When I was on the ground, I waited for him to be sent off." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Kemenangan Italia akhirnya ditentukan oleh eksekutor penalti kelima, Fabio Grosso, yang membawa emosi tertinggi sepanjang sejarah sepak bola Italia.

"It was a relief." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Mantan penyerang yang bertransformasi menjadi bek kiri, Fabio Grosso, mengenang momen tersebut sebagai pencapaian luar biasa yang melampaui impian masa kecilnya.

"We reached the greatest emotional high that sport can offer," kata Fabio Grosso, mantan bek Italia.

Grosso yang kini melatih Fiorentina setelah sukses bersama Sassuolo menyatakan bahwa perjalanan kariernya yang merangkak dari divisi bawah memberinya banyak pelajaran.

"As a kid, it was hard even to dream of achieving something like that." kata Fabio Grosso, mantan bek Italia.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Marcello Lippi atas dedikasi besarnya dalam memimpin tim.

"I wanted to take it," kata Fabio Grosso, mantan bek Italia.

Grosso mengungkapkan dirinya menawarkan diri menjadi penendang kelima, meskipun Alessandro Del Piero sebenarnya juga menginginkan posisi eksekutor penentu tersebut.

"I had to come a long way before I could take that penalty." kata Fabio Grosso, mantan bek Italia.

Di sisi lain, Materazzi juga menyoroti kemerosotan timnas Italia saat ini yang gagal menembus putaran final Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

"I'm a coach who tries to do things the way I believe they should be done, always aiming to get the very best out of the players I have available." kata Fabio Grosso, mantan bek Italia.

Materazzi menilai jika saja Italia lolos ke Piala Dunia 2026, mereka tetap akan kesulitan menghadapi tim seperti Tanjung Verde yang mampu merepotkan Argentina.

"Words may never be enough for the coach." kata Fabio Grosso, mantan bek Italia.

Menurut Materazzi, kegagalan sepak bola Italia terjadi karena semua pihak terlalu cepat berpuas diri setelah kejayaan di Berlin tahun 2006 silam.

"How much did Argentina struggle against Cape Verde?" tanya Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Ia menegaskan tim-tim kecil kini bermain dengan organisasi dan kualitas yang jauh lebih maju dibanding dua dekade lalu.

"And why was it so difficult against Cape Verde?" tanya Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Tanjung Verde dinilai bermain untuk menang dengan ide sepak bola yang jelas, sama seperti taktik mengejutkan Italia pada tahun 2006.

"We’ve spent that time doing too little more than anything else." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Hingga saat ini, kegagalan timnas Italia untuk bangkit di kancah internasional masih menjadi hal yang menyedihkan bagi Materazzi.

"It’s a long explanation, and these days it makes me sad to face up to it." kata Marco Materazzi, mantan bek Italia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author