Ekonomi Inggris Mengalami Kontraksi Pertama Sejak Agustus 2025
Perekonomian nasional Inggris dilaporkan mengalami kontraksi sebesar 0,1% pada April kemarin, seperti dikutip dari Detik Finance.
Kantor Statistik Nasional (ONS) menyatakan bahwa penurunan ini utamanya dipicu oleh dampak perang antara Amerika Serikat (AS) melawan Iran yang mulai menekan sektor bisnis.
Konflik bersenjata tersebut mengakibatkan banyak perusahaan di Inggris menghadapi pembengkakan biaya operasional yang sangat signifikan.
Kenaikan ongkos energi yang bersumber dari tingginya harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama yang membuat omzet dunia usaha merosot tajam.
Penyusutan performa pada bulan April ini menjadi penurunan kinerja ekonomi Inggris secara bulanan yang pertama kali terjadi sejak Agustus 2025 lalu.
Kendati demikian, sejumlah ekonom memproyeksikan aktivitas ekonomi nasional akan segera kembali ke jalur pertumbuhan yang lebih kuat setelah melewati fase pelemahan beberapa bulan ke depan.
"Ekonomi tumbuh selama tiga bulan hingga April, kontraksi pada bulan April lebih menunjukkan prospek pertumbuhan ekonomi ke depannya. Angka bulanan tersebut menunjukkan kembali rapuhnya perekonomian Inggris, dengan tekanan pada konsumen dan bisnis yang kemungkinan akan berlanjut selama beberapa bulan mendatang," kata kepala ekonom di KPMG UK, Yael Selfin dikutip dari BBC, Sabtu (13/6/2026).
Meskipun para analis tetap optimistis mengenai potensi pemulihan ekonomi Inggris, mereka tidak menampik adanya risiko perlambatan performa selama beberapa bulan mendatang.
Kondisi ini memicu perkiraan bahwa Bank of England akan memilih untuk mempertahankan tingkat suku bunga mereka.
Sejak ketegangan bersenjata dengan Iran pecah dan Selat Hormuz diblokade, pergerakan harga minyak mentah dunia melonjak ke level yang sangat tinggi.
Harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi acuan pasar internasional bahkan sempat menembus angka US$ 120 per barel dan terus berfluktuasi seiring dinamika kepastian akhir perang.
Dampak Lonjakan Harga Energi bagi Konsumen
Melambungnya harga minyak mentah global langsung berimplikasi pada kenaikan harga komoditas bensin dan solar di wilayah Inggris.
Beban tagihan energi untuk rumah tangga diprediksi masih akan terus membubung tinggi dalam beberapa bulan ke depan menyusul rencana penyesuaian batas harga energi pada Juli nanti.
"Konsumen bersiap menghadapi kenaikan tajam tagihan energi mereka, dan sebagai hasilnya mereka telah mengisyaratkan niat untuk mengurangi pembelian dan menambah tabungan mereka, yang akan membebani aktivitas ekonomi," papar Selfin.
Komoditas minyak bumi memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap penentuan struktur biaya berbagai barang maupun jasa di pasar.
Ketika masyarakat mulai memperketat pengeluaran dan memangkas belanja harian, situasi ini dipastikan bakal memberikan tekanan ganda bagi seluruh sektor usaha di Inggris.
"Permintaan domestik yang lesu membatasi kemampuan perusahaan untuk meneruskan biaya yang lebih tinggi ini kepada konsumen, yang kemungkinan akan menekan margin keuntungan," jelasnya.