Sains Ungkap Efek Mandi Air Hangat dan Air Dingin bagi Kesehatan

Share

Pemilihan suhu air saat mandi memberikan efek fisiologis yang berbeda pada tubuh. Sensasi segar dari air dingin dan rasa rileks dari air hangat memiliki dasar penjelasan ilmiah masing-masing, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Mayoritas orang menyukai air ber suhu 40-41 derajat Celsius untuk mandi karena memberikan sensasi relaksasi. Suhu hangat ini membantu meningkatkan kualitas tidur, meredakan ketegangan otot, mengurangi rasa lelah, hingga mengatasi keluhan osteoartritis.

Suhu hangat bekerja memperlebar pembuluh darah sehingga peredaran darah menjadi lebih lancar. Penelitian menunjukkan bahwa aliran darah yang membaik ini meringankan kondisi arteri kaku dan membantu penderita gagal jantung kronis.

Namun, paparan air yang terlalu panas berpotensi meluruhkan minyak alami pada kulit dan rambut. Dampak buruknya meliputi kulit kering, gatal, pemicu eksim, serta kondisi rambut yang kusam.

Penggunaan air yang sangat panas juga berisiko menurunkan tekanan darah secara mendadak. Penurunan tekanan darah ini berpotensi memicu pusing hingga pingsan atau dikenal sebagai sinkop vasovagal.

"Saya pasti sudah mendengar cerita serupa setidaknya selusin kali; seseorang sedang mandi air panas, merasa pusing dan terbangun dalam genangan darah akibat cedera kepala," jelas ahli kardiologi intervensi, Hassan Makki kepada CIC Centers.

Efek Air Dingin terhadap Tubuh

Di sisi lain, mandi air dingin berpotensi meningkatkan kekebalan tubuh melalui aktivasi sistem saraf simpatik. Kenaikan hormon noradrenalin saat terkena air dingin memicu peningkatan detak jantung serta tekanan darah.

"Inilah yang kemungkinan besar menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah yang diamati ketika orang berendam dalam air dingin, dan dikaitkan dengan peningkatan kesehatan yang disarankan," terang Lindsay Bottoms, Dosen Fisiologi Olahraga dan Kesehatan di Universitas Hertfordshire.

Paparan suhu dingin sekitar 14 derajat Celsius memicu respons tubuh untuk meningkatkan aliran darah agar suhu kembali hangat. Proses ini sanggup melonjakkan metabolisme hingga 4,5 kali lipat, sehingga sering dikaitkan dengan pembakaran kalori.

Dari segi kesehatan mental, rangsangan impuls listrik dari reseptor dingin di kulit menuju otak diyakini mampu meningkatkan kewaspadaan dan meredakan gejala depresi.

"Mandi air dingin mengirimkan sejumlah besar impuls listrik dari ujung saraf perifer ke otak, yang mungkin memiliki efek antidepresif," terangnya.

Meski demikian, berada di dalam air dingin terlalu lama membawa risiko syok air dingin (cold shock). Ahli kesehatan dan air dari Cladding Direct, Glen Coulson, mengingatkan bahaya reaksi tubuh tersebut.

"[Hal itu] dapat menyebabkan sejumlah reaksi – mulai dari hiperventilasi hingga serangan jantung," ujarnya.

Saran Kombinasi Terbaik

Para ahli menyarankan agar penggunaan suhu air disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan fisik. Kombinasi yang ideal adalah memulai mandi menggunakan air hangat, kemudian diakhiri dengan bilasan air dingin dalam waktu singkat.

Penggunaan air dingin saat cuaca terik memang menyegarkan, tetapi tidak boleh dilakukan terlalu lama karena tidak memengaruhi suhu inti tubuh. Pilihan mandi dengan air hangat suam-suam kuku tetap menjadi opsi paling aman bagi tubuh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author