DPD RI Nilai Indikator Ekonomi Nasional Menunjukkan Perbaikan
Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung menilai indikator ekonomi nasional saat ini menunjukkan arah perbaikan nyata usai menyimak Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Gedung Nusantara Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kondisi perekonomian domestik dinilai memberikan harapan positif bagi masyarakat meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Tamsil menjelaskan bahwa data pertumbuhan ekonomi yang dipaparkan pemerintah telah selaras dengan temuan berbagai lembaga independen serta akademisi.
"Semua data menunjukkan adanya pertumbuhan. Saya mempunyai data dari BPS, lembaga riset di kampus, BRIN, hingga Universitas Hasanuddin. Datanya hampir sama dengan BPS," ujar Tamsil.
Tamsil juga menyoroti penurunan angka rasio Gini dari 0,38 menjadi 0,36 sebagai bukti dampak pemerataan ekonomi.
"Penurunan ini menjadi bukti bahwa hasil pertumbuhan ekonomi mulai dirasakan oleh masyarakat lapisan bawah," paparnya.
Sektor pertanian turut merasakan dampak positif dari kebijakan kepastian pasokan serta stabilitas harga pupuk dan komoditas saat masa tanam maupun panen.
"Kita lihat ada stabilitas harga, saat musim panen harga komoditas terjaga sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET)," imbuhnya.
Mengenai gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), ia menegaskan hal itu merupakan dampak kebijakan periode sebelumnya, namun ia optimistis kepemimpinan baru akan membuka lapangan kerja secara masif. Di sisi lain, regulasi perlindungan tenaga kerja informal seperti Pekerja Rumah Tangga (PRT) kini telah menjamin standar upah.
"Memang saat ini baru pekerja-pekerja informal," ujarnya.
Efisiensi BUMN juga dinilai sukses menghemat anggaran negara hingga Rp51 triliun dalam setahun terakhir.
"Ini sesuatu yang positif, apalagi ada kebijakan yang mengurangi jumlah BUMN karena setiap pengurangan itu ada implikasi yaitu efisiensi," ucapnya.
Selain itu, Tamsil mendukung rasionalisasi jumlah bank nasional dari sekitar 100 menjadi 25 bank ideal, di mana sisa asetnya dapat dialokasikan ke Badan Pengelola Investasi Danantara, serta penataan izin bank asing berbasis resiprositas.
"Jadi masih ada harapan, tidak 'gelap-gelap banget' seperti yang dikhawatirkan beberapa pengamat. Kita belum bisa memvonis gagal karena indikator ekonominya bagus. Meski belum 100 persen sempurna dan masih ada celah kelemahan yang juga diakui oleh Presiden. Langkah perbaikan ini patut diapresiasi," pungkas Tamsil.