Donald Trump Jalani Tiga Kali Pemeriksaan Kesehatan dalam 13 Bulan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendapat sorotan publik setelah menjadwalkan pemeriksaan kesehatan sebanyak tiga kali di Rumah Sakit Walter Reed dalam kurun waktu 13 bulan, seperti dilansir dari Detik Health.
Frekuensi kunjungan medis yang dinilai cukup sering tersebut menimbulkan pertanyaan dari masyarakat mengenai kondisi kesehatan sang presiden. Menanggapi fenomena ini, Administrator Pusat Layanan Medicare and Medicaid AS memberikan penjelasan mengenai kebiasaan Trump.
"Saya pikir karena dia menyukai hasilnya," kata Dr. Oz dalam konferensi pers di Gedung Putih, dikutip dari laporan medis terkini.
Menurut Dr Oz, Trump merupakan sosok yang sangat teliti dan selalu ingin memastikan kondisi tubuhnya berjalan ke arah yang benar. Trump juga dilaporkan berhasil melewati berbagai tes kesehatan harian dengan hasil yang memuaskan.
"Dia benar-benar baik-baik saja. Dia lulus tes setiap hari, dan saya benar-benar percaya bahwa dia ingin memastikan semuanya berjalan ke arah yang benar," terang Dr Oz yang dikutip dari laman People.
Dr Oz menambahkan bahwa sifat perfeksionis Trump dalam memantau indikator kesehatan ini mirip dengan kebiasaan komunikasinya sehari-hari yang selalu ingin langsung menangani hal yang mengganggu pikirannya.
"Dia adalah orang yang sangat teliti dalam banyak hal yang sering kali kurang dihargai."
Rasa penasaran Presiden AS terhadap angka-angka medisnya memicu frekuensi pemeriksaan yang tinggi demi menjaga kondisi fisiknya tetap terpantau dengan baik.
"Tetapi baginya untuk ingin mengetahui semua angka dan terus memantau kondisinya, itu adalah alasan yang sama mengapa dia menelepon orang-orang di jam-jam yang tidak biasa karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia ingin menanganinya," jelas Dr Oz.
Selain intensitas cek kesehatan, penampilan fisik Trump seperti adanya memar di tangan juga memicu spekulasi publik. Dokter pribadinya, Kapten Sean Barbabella, DO, menjelaskan bahwa memar tersebut merupakan iritasi jaringan lunak ringan akibat konsumsi aspirin untuk pencegahan kardiovaskular dan aktivitas jabat tangan yang sering.
Trump sendiri mengakui secara terbuka bahwa dirinya mengonsumsi aspirin melebihi dosis anjuran dokter agar darahnya tetap encer.
"Mereka bilang aspirin bagus untuk mengencerkan darah, dan saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya," kata Trump dalam wawancara bersama The Wall Street Journal.
Konsumsi pengencer darah dosis tinggi tersebut menjadi penyebab utama kulit luar sang presiden menjadi lebih mudah memar.
"Saya ingin darah yang encer mengalir melalui jantung saya. Apakah itu masuk akal?" sambungnya.
Terkait bekas luka lain di tangannya, Trump mengonfirmasi hal itu disebabkan insiden kecil saat Konvensi Nasional Partai Republik 2024 ketika tangannya terkena cincin Pam Bondi saat melakukan tos.
"Cincin itu mengenai punggung tangan saya, dan ya, ada sedikit luka," aku Trump yang terpaksa memakai riasan wajah (foundation) untuk menutupi bekas luka tersebut.
Trump juga memberikan klarifikasi mengenai foto-foto viral yang menarasikan dirinya tertidur di tengah-tengah rapat penting dan menegaskan bahwa momen tersebut hanyalah kedipan mata yang tertangkap kamera.
"Saya hanya akan menutup [mata saya]. Itu sangat menenangkan bagi saya. Terkadang mereka akan mengambil foto saya berkedip, berkedip, dan mereka akan menangkap momen kedipan saya," sanggah Trump.
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan rasa puas dan bangga terhadap kondisi fisiknya di usia 79 tahun dengan mengklaim bahwa hasil pemeriksaan fisiknya berjalan dengan sangat sempurna.