Dokter Spesialis Jelaskan Dinamika Diagnosa Radang Usus Buntu

Share

Perbedaan diagnosis usus buntu yang dialami selebgram Fahira Almira saat berobat ke Indonesia dan Penang, Malaysia, mendapat tanggapan dari pakar kesehatan. Perubahan kondisi klinis pasien dari fase akut menjadi kronis dapat memicu perbedaan hasil pemeriksaan medis tersebut.

Klarifikasi mengenai dinamika penyakit ini disampaikan oleh Spesialis penyakit dalam subspesialis Konsultan Gastroentologi dan Hepatologi, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP. Kasus ini ramai diperbincangkan setelah sang influencer mengaku pernah tiga kali terdiagnosis radang usus buntu hingga disarankan operasi di Indonesia, namun dinyatakan tidak bermasalah saat diperiksa di Penang, dilansir dari Detik Health pada Rabu (12/8/2026).

Prof Ari menerangkan bahwa gejala appendicitis atau radang usus buntu dapat mereda dalam hitungan minggu setelah pasien mendapat penanganan awal, sehingga gejalanya tidak selalu berada dalam fase akut saat diperiksa ulang.

"Bahkan, jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2-3 minggu kalau kondisinya membaik, maka gejala akutnya sudah hilang. Tapi bisa saja pasien masih ada dalam fase apendisitis kronis," kata Prof Ari.

Perubahan status infeksi ini membuat kondisi pasien saat pertama kali datang berobat sangat mungkin berbeda dengan pemeriksaan di rumah sakit berikutnya.

"Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut. Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi," kata Prof Ari.

Kondisi yang mereda tersebut membuat bukti infeksi sulit ditemukan saat penanganan di lokasi baru.

"Sudah mungkin kronis kalau diperiksa pun juga tidak terbukti lagi adanya infeksi," tambah Prof Ari.

Terkait pilihan penanganan medis, peradangan usus buntu sebenarnya tidak selalu harus berakhir di meja operasi. Dokter dapat memberikan kombinasi obat antibiotik dan pereda nyeri jika pasien menolak tindakan pembedahan, meski metode ini tetap memiliki risiko tersendiri.

"Bisa saja akhirnya pasien itu tidak jadi dioperasi," kata Prof Ari.

Jika opsi non-bedah gagal, pasien berisiko mengalami komplikasi serius seperti perforasi atau kebocoran pada usus buntu hingga terjadi perlengketan organ dalam.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author