Dokter Jiwa Ungkap Penyebab Euforia Kolektif Bobotoh Persib Bandung

Share

Ribuan pendukung Persib Bandung memadati kawasan Jalan Asia Afrika untuk merayakan keberhasilan tim mengunci gelar juara Super League 2025/2026. Fenomena perayaan besar-besaran ini mendapat sorotan dari ahli kesehatan jiwa terkait dampak emosional psikologis para suporter.

Suasana kegembiraan di pusat kota Bandung tersebut dilaporkan telah terasa sejak dini hari, dilansir dari Detik Health pada Minggu (24/5/2026). Massa pendukung berkumpul untuk melakukan konvoi setelah klub berjuluk Maung Bandung itu memastikan trofi kemenangan ketiga mereka secara beruntun.

Aktivitas di sekitar lokasi perayaan juga mengalami perubahan jadwal demi melayani massa yang datang lebih awal. Salah seorang pedagang bubur ayam di kawasan Asia Afrika, Mang Jek, mengaku sengaja membuka dagangannya sejak dini hari karena situasi sekitar yang sudah ramai.

"Jualan dari jam 6 sore kemarin, dilanjut jam 3 tadi, masih ada terus bobotoh di sini sampai sekarang" ujar Mang Jek, pedagang bubur ayam.

Penjelasan mengenai maraknya aksi konvoi dan perayaan di jalanan kemudian dipaparkan oleh spesialis kedokteran jiwa, dr Lahargo Kembaren SpKJ. Menurutnya, sepakbola melibatkan pengalaman emosional bersama yang sangat kuat, bukan hanya sekadar pertandingan olahraga biasa.

"Secara psikologis, manusia punya kebutuhan dasar untuk merasa menjadi bagian dari kelompok atau komunitas. Dalam sepak bola, fans tidak hanya menonton pertandingan, tetapi ikut 'hidup bersama' klubnya," kata dr Lahargo Kembaren SpKJ, Spesialis Kedokteran Jiwa.

Rasa bangga serta kedekatan sosial yang muncul saat merayakan kemenangan bersama dipicu oleh pelepasan hormon tertentu di dalam otak manusia. Hormon-hormon tersebut aktif secara bersamaan ketika momen kebahagiaan dirayakan secara berkelompok melalui pesta di jalanan atau nyanyian.

"Ketika tim juara, otak melepaskan hormon seperti dopamin dan oksitosin yang memunculkan rasa senang, bangga, dan kedekatan sosial. Karena itu, kebahagiaan terasa lebih kuat saat dirayakan bersama-sama melalui konvoi, nyanyian, atau pesta di jalan," sambung dr Lahargo Kembaren SpKJ.

Kondisi psikologis massa pendukung sepakbola ini dikenal secara medis sebagai fenomena euforia kolektif. Keadaan tersebut merefleksikan perasaan mendalam dari sekumpulan individu yang merasa telah berjuang dan menunggu keberhasilan bersama dalam waktu lama.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author