Dokter Jelaskan Penanganan Usus Buntu Tanpa Harus Operasi
Kabar selebgram Fahira Almira yang berobat ke Penang, Malaysia, akibat perbedaan diagnosis organ pencernaan menarik perhatian publik. Penanganan masalah radang usus buntu kini menjadi topik yang banyak dipertanyakan masyarakat, dilansir dari Detik Health.
Prosedur bedah kerap dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi radang usus buntu. Namun, tindakan medis sebenarnya disesuaikan dengan tingkat keparahan infeksi yang dialami pasien, apakah tergolong akut atau masih dalam tahap ringan.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi dari Mayapada Hospital, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH FINASIM, mengungkapkan bahwa pengobatan usus buntu memungkingkan dilakukan dengan atau tanpa jalur operasi.
Penanganan darurat atau tindakan operasi cepat wajib dilakukan apabila pasien menunjukkan indikasi peradangan parah. Keputusan ini diambil guna mencegah komplikasi bahaya yang dapat memperburuk kondisi fisik penderita.
"Kapan operasi usus buntu wajib dikerjakan (cito), pada kondisi apendisitis akut di mana terdapat tanda-tanda nyeri perut kanan bawah yang khas, mual, dan disertai demam," kata dr Aru saat dihubungi detikcom, Rabu (12/8/2026).
Pilihan Terapi Tanpa Tindakan Bedah
Bagi penderita dengan gejala yang belum parah, intervensi medis non-bedah dapat dijadikan pertimbangan awal. Pemberian obat-obatan tertentu mampu meredakan peradangan sebelum timbul risiko yang lebih serius pada organ pencernaan.
"Pada radang usus buntu yg ringan dan tanpa adanya komplikasi, penundaan operasi masih diperbolehkan dan beberapa tindakan seperti pemberian antibiotik intravena bisa mengurangi risiko pemberatan," lanjutnya.
Meskipun terapi antibiotik dapat meredakan gejala sementara, risiko infeksi berulang di masa mendatang tetap ada. Prosedur pembedahan tetap menjadi standar penanganan utama untuk menyembuhkan radang usus buntu secara permanen.