Dokter Jelaskan Bahaya Skinny Fat dan Cara Memperbaikinya

Share

Berat badan dalam batas normal rupanya tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa tubuh seseorang berada dalam kondisi sehat. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah skinny fat, yakni keadaan ketika indeks massa tubuh (IMT) tergolong ideal namun kadar lemak di area perut justru menumpuk secara berlebihan, seperti dilansir dari Detik Health.

Penggunaan angka IMT semata dinilai tidak memadai untuk mengukur status kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menerangkan bahwa IMT sebatas membandingkan rasio berat badan terhadap tinggi badan. Oleh sebab itu, evaluasi kesehatan memerlukan peninjauan distribusi lemak melalui parameter lain seperti pengukuran lingkar perut.

"Jangan sampai kamu kurus, IMT normal, tapi lingkar perutnya ternyata besar banget. Itu nanti kita sebutnya dengan skinny fat," jelas dr Yaze.

Penumpukan lemak pada rongga perut dapat menjadi indikator utama terjadinya obesitas sentral, meskipun angka timbangan menunjukkan batas normal. Kondisi obesitas sentral ditandai dengan lingkar perut yang melebihi 90 cm pada pria atau melampaui 80 cm pada wanita.

Secara anatomis, struktur lemak di area perut terbagi menjadi dua tingkatan. Lapisan pertama adalah lemak subkutan yang berada tepat di bawah permukaan kulit, sedangkan lapisan kedua merupakan lemak visceral yang letaknya lebih dalam hingga mengelilingi organ-organ vital di rongga perut. Keberadaan lemak visceral inilah yang memicu timbulnya berbagai jenis gangguan fungsi organ.

"Nah kalau misalnya dia kelihatannya kecil, kurus, tapi ternyata obesitas sentral itu bisa kita sebut dengan skinny fat," ujar dr Yaze.

Risiko Penyakit Metabolik dan Solusi Komposisi Tubuh

Ukuran berat badan yang tergolong ideal tidak menjamin seseorang terbebas dari ancaman masalah kesehatan. Akumulasi lemak pada area perut terbukti menjadi faktor pendorong utama yang menaikkan risiko gangguan kesehatan pada tubuh.

Keadaan skinny fat terbukti memiliki porsi keterkaitan yang sangat kuat terhadap hadirnya deretan penyakit metabolik. Beberapa gangguan kesehatan yang sering terpicu antara lain tekanan darah tinggi atau hipertensi, diabetes, hingga gangguan pada fungsi jantung. Maka dari itu, upaya menjaga komposisi tubuh agar tetap seimbang sama pentingnya dengan mempertahankan angka berat badan ideal.

"Nah itu tuh yang deket banget sama penyakit metabolik, misalnya kayak hipertensi, diabetes, terus misalnya penyakit jantung, nah itu yang harus kita perbaiki," jelas dr Yaze.

Penanganan kondisi skinny fat tidak berfokus pada langkah menurunkan angka timbangan semata. Prioritas tindakan diarahkan pada pemangkasan persentase lemak tubuh yang diimbangi dengan peningkatan massa otot agar rasio komposisi tubuh berangsur membaik.

Dalam meningkatkan massa otot, latihan beban atau strength training menjadi pilihan olahraga yang sangat disarankan. Jenis latihan fisik ini efektif membentuk kekuatan fisik sekaligus mengoreksi ketidakseimbangan kadar lemak di dalam tubuh.

"Jadi aku lebih nyaranin adalah olahraga yang membangun otot. Jadi supaya yang besar adalah komposisi ototnya, bukan komposisi lemaknya. Kita benerin komposisinya," jelasnya.

Perubahan pola konsumsi harian juga menjadi pilar utama dalam perbaikan komposisi tubuh. Kebiasaan makan seperti mengonsumsi nasi goreng dapat diganti dengan piring berisi nasi putih serta lauk-pauk bergizi seimbang. Selain itu, asupan gorengan perlu dipangkas secara bertahap guna menekan potensi penumpukan lemak perut yang lebih parah.

Modifikasi gaya hidup ini tidak harus diterapkan secara ekstrem sekaligus. Langkah konsisten dengan mengurangi frekuensi makanan tinggi lemak sudah cukup menjadi modal awal dalam membenahi komposisi tubuh secara keseluruhan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author